<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>astronomi Archives - seketika.com</title>
	<atom:link href="https://www.seketika.com/tag/astronomi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.seketika.com/tag/astronomi</link>
	<description>Independen Menjangkau Dunia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Apr 2026 01:34:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.seketika.com/wp-content/uploads/2024/12/Seketikacom-favicon-96x96-1-80x80.png</url>
	<title>astronomi Archives - seketika.com</title>
	<link>https://www.seketika.com/tag/astronomi</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Langit Lampung–Banten Heboh! Meteor Ternyata Sampah Roket Tiongkok, Ini Penjelasan Resminya</title>
		<link>https://www.seketika.com/langit-lampung-banten-heboh-meteor-ternyata-sampah-roket-tiongkok-ini-penjelasan-resminya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 01:34:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Viral]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Viral]]></category>
		<category><![CDATA[BRIN]]></category>
		<category><![CDATA[CZ-3B]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena langit]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[roket Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[sampah antariksa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=35391</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/langit-lampung-banten-heboh-meteor-ternyata-sampah-roket-tiongkok-ini-penjelasan-resminya">Langit Lampung–Banten Heboh! Meteor Ternyata Sampah Roket Tiongkok, Ini Penjelasan Resminya</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Seketika.com</a>, Jakarta – Fenomena objek terang yang melintas di langit wilayah Lampung dan Banten serta viral di media sosial akhirnya terungkap. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa benda tersebut merupakan sampah antariksa berupa sisa roket Tiongkok CZ-3B yang memasuki atmosfer Bumi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin mengatakan objek tersebut terlihat mencolok karena memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi dan mengalami gesekan kuat dengan udara, sehingga terbakar dan tampak terang dari permukaan Bumi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">“Objek terang yang terlihat di langit itu adalah pecahan sampah antariksa. Ketika memasuki atmosfer yang semakin padat, benda tersebut terbakar dan pecah, sehingga terlihat seperti serpihan cahaya,” jelas Thomas seperti dikutip dalam keterangan Humas BRIN, Minggu (5/4/2026).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, fenomena tersebut juga menyebabkan objek tampak terpecah menjadi beberapa bagian sebagaimana disaksikan masyarakat di wilayah Lampung dan Banten.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan data Space-Track dan hasil analisis orbit, sisa roket tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di sebelah barat Sumatra. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada sekitar pukul 19.56 WIB, ketinggiannya turun hingga di bawah 120 kilometer dan memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada ketinggian tersebut, hambatan udara meningkat drastis sehingga objek kehilangan kecepatan dan ketinggian secara cepat. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses ini memicu gesekan intens yang menghasilkan panas tinggi, menyebabkan benda terbakar dan terfragmentasi menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya jatuh ke permukaan Bumi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">BRIN memperkirakan pecahan benda tersebut kemungkinan besar jatuh tersebar di kawasan hutan atau di laut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Thomas menjelaskan bahwa fenomena jatuhnya sampah antariksa bukan hal yang langka secara global, namun kejadian yang dapat disaksikan langsung saat melintas di wilayah Indonesia tergolong jarang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Peristiwa serupa terakhir kali terjadi pada 2022, ketika objek sejenis terlihat di Lampung dan jatuh di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa fenomena ini pada umumnya tidak membahayakan masyarakat karena sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Risiko baru muncul apabila ada bagian yang tidak terbakar sempurna dan jatuh di area permukiman. Namun, hingga saat ini kondisi tersebut belum pernah terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia juga menjelaskan bahwa penyebab utama sampah antariksa jatuh ke Bumi adalah adanya hambatan udara pada orbit rendah. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bekas roket atau satelit yang sudah tidak aktif akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer, sehingga ketinggiannya terus menurun hingga akhirnya masuk ke lapisan atmosfer padat dan terbakar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">BRIN mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik apabila melihat fenomena serupa pada masa mendatang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini dinilai sebagai bagian dari dinamika aktivitas antariksa global yang dapat diamati secara ilmiah, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan literasi publik terkait sains dan keantariksaan(BRIN).</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/langit-lampung-banten-heboh-meteor-ternyata-sampah-roket-tiongkok-ini-penjelasan-resminya">Langit Lampung–Banten Heboh! Meteor Ternyata Sampah Roket Tiongkok, Ini Penjelasan Resminya</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Siap-Siap Bulan Gigit matahari, Gerhana Matahari Parsial Akhir Pekan Ini</title>
		<link>https://www.seketika.com/siap-siap-bulan-gigit-matahari-gerhana-matahari-parsial-akhir-pekan-ini</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Mar 2025 07:09:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Asia Utara]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[Cara Menyaksikan Gerhana]]></category>
		<category><![CDATA[Eropa]]></category>
		<category><![CDATA[Fenomena Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana 2025]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana matahari]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana Matahari Parsial]]></category>
		<category><![CDATA[Gerhana Matahari Parsial 2025]]></category>
		<category><![CDATA[Keamanan Mata]]></category>
		<category><![CDATA[matahari]]></category>
		<category><![CDATA[Pelindung Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Perlindungan Mata]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=25703</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/siap-siap-bulan-gigit-matahari-gerhana-matahari-parsial-akhir-pekan-ini">Siap-Siap Bulan Gigit matahari, Gerhana Matahari Parsial Akhir Pekan Ini</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Seketika.com</a>, Internasional – Akhir pekan ini, fenomena gerhana matahari parsial akan terlihat di seluruh Belahan Bumi Utara. Gerhana ini akan menciptakan pemandangan yang memukau, di mana bulan tampak menggigit matahari. Gerhana matahari parsial ini bisa dilihat pada hari Sabtu di berbagai wilayah, termasuk Eropa, Afrika bagian barat, Amerika Utara bagian timur, dan Asia utara. Di kawasan Amerika Serikat bagian timur laut, Greenland, dan Kanada bagian timur, matahari akan tampak menyusut paling banyak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama gerhana matahari parsial, bulan bergerak di antara matahari dan Bumi, menciptakan bayangan yang hanya menutupi sebagian matahari. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Hasilnya, matahari tampak seperti bulan sabit. Berbeda dengan gerhana matahari total, pada gerhana ini tidak ada penutupan matahari sepenuhnya, namun tetap memerlukan pelindung mata yang tepat untuk menghindari kerusakan pada penglihatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat menyaksikan gerhana matahari parsial, penting untuk memakai pelindung mata yang sesuai, seperti kacamata gerhana yang telah terdaftar. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Menggunakan pelindung mata yang tepat sangat penting karena melihat matahari secara langsung dapat merusak retina. Jangan pernah melihat langsung ke arah matahari tanpa pelindung yang sesuai.</p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/siap-siap-bulan-gigit-matahari-gerhana-matahari-parsial-akhir-pekan-ini">Siap-Siap Bulan Gigit matahari, Gerhana Matahari Parsial Akhir Pekan Ini</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NASA Ungkap Fakta Baru, Bumi Tidak Secara Langsung Mengelilingi Matahari</title>
		<link>https://www.seketika.com/nasa-ungkap-fakta-baru-bumi-tidak-secara-langsung-mengelilingi-matahari</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Dec 2024 07:35:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[matahari]]></category>
		<category><![CDATA[nasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=22679</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/nasa-ungkap-fakta-baru-bumi-tidak-secara-langsung-mengelilingi-matahari">NASA Ungkap Fakta Baru, Bumi Tidak Secara Langsung Mengelilingi Matahari</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Seketika.com</a>, SAINS &#8211; Selama ini, kita diajarkan bahwa Bumi dan planet-planet lainnya mengorbit Matahari sebagai pusat Tata Surya. Namun, penjelasan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa kenyataannya lebih kompleks. Hukum Ketiga Kepler dan konsep gravitasi dua arah mengungkapkan fakta menarik tentang bagaimana Tata Surya bekerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Hukum Ketiga Kepler, orbit planet tidak hanya bergantung pada satu objek pusat. Hukum ini menjelaskan hubungan antara massa dua benda yang saling berinteraksi secara gravitasi dan menentukan parameter orbit mereka. Dalam hal ini, Bumi dan planet-planet lain sebenarnya tidak mengelilingi Matahari secara langsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penjelasan lebih rinci dari NASA mengungkapkan istilah &#8220;barycenter,&#8221; yaitu pusat massa bersama antara dua benda yang berinteraksi secara gravitasi. Pusat ini adalah titik di mana kedua benda tersebut &#8220;mengorbit,&#8221; meskipun ukuran dan massa mereka sangat berbeda. Dalam konteks Tata Surya, barycenter sering kali berada di dekat Matahari karena massanya yang sangat besar. Namun, pengaruh gravitasi dari planet masif seperti Jupiter dan Saturnus membuat barycenter ini sering berada di luar inti Matahari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">James O&#8217;Donoghue, seorang astronom planet dan komunikator sains, juga mengonfirmasi hal ini melalui unggahannya di akun X (sebelumnya Twitter). Ia menjelaskan bahwa meskipun planet-planet secara umum mengorbit Matahari, secara teknis mereka mengorbit barycenter, titik pusat gravitasi bersama yang tidak selalu berada di dalam Matahari. &#8220;Gravitasi Jupiter, misalnya, sering kali membuat planet-planet mengorbit di titik baru di luar angkasa, bukan langsung ke Matahari,&#8221; ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena serupa juga terjadi antara Bumi dan Bulannya. Bulan tidak mengorbit tepat di pusat Bumi. Sebaliknya, ia mengorbit sekitar 5.000 kilometer dari inti Bumi. Posisi barycenter ini terus berubah karena Bulan perlahan menjauhi Bumi setiap tahunnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep barycenter telah menjadi alat penting bagi para astronom untuk mendeteksi sistem planet di sekitar bintang-bintang jauh. Dengan memahami gerakan bintang yang &#8220;mengelilingi&#8221; barycenter bersama planetnya, para ilmuwan dapat mengidentifikasi keberadaan planet di luar Tata Surya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengetahuan ini memberikan perspektif baru tentang dinamika gravitasi di Tata Surya dan menjelaskan bahwa orbit Bumi dan planet-planet lainnya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Tata Surya adalah sistem yang kompleks, di mana semua benda langit saling memengaruhi melalui gravitasi.</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/nasa-ungkap-fakta-baru-bumi-tidak-secara-langsung-mengelilingi-matahari">NASA Ungkap Fakta Baru, Bumi Tidak Secara Langsung Mengelilingi Matahari</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gerhana Bulan Parsial dan Supermoon: Peristiwa Langka yang Menerangi Langit</title>
		<link>https://www.seketika.com/gerhana-bulan-parsial-dan-supermoon-peristiwa-langka-yang-menerangi-langit</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Sep 2024 17:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan Purnama Panen]]></category>
		<category><![CDATA[Bulan Super]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena langit]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana bulan]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana bulan total]]></category>
		<category><![CDATA[waktu gerhana]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=19347</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/gerhana-bulan-parsial-dan-supermoon-peristiwa-langka-yang-menerangi-langit">Gerhana Bulan Parsial dan Supermoon: Peristiwa Langka yang Menerangi Langit</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Jakarta – Bulan super baru saja menerangi langit di seluruh dunia, bersamaan dengan terjadinya gerhana bulan parsial yang langka. Pada malam Selasa, bulan tampak lebih cerah dan lebih besar dari biasanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Supermoon terjadi ketika Bulan berada pada titik terdekatnya dengan Bumi dalam orbitnya. Saat peristiwa ini berlangsung, Bulan tampak lebih besar dan lebih terang, menciptakan pemandangan yang memukau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gerhana bulan parsial yang langka ini terjadi ketika bayangan Bumi menutupi sebagian Bulan, dengan sekitar 4% dari cakram Bulan tertutup kegelapan. Gerhana ini dapat disaksikan sepanjang malam dari Selasa hingga Rabu di berbagai wilayah, termasuk Inggris, Eropa, Amerika Utara dan Selatan, serta seluruh Afrika.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bulan purnama bulan ini, yang dikenal sebagai bulan purnama panen, adalah yang kedua dari empat &#8220;bulan super&#8221; yang akan terjadi tahun ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengamat langit juga dapat menantikan dua gerhana bulan total yang akan terlihat dari Inggris tahun depan, pada tanggal 14 Maret dan 7 September.</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/gerhana-bulan-parsial-dan-supermoon-peristiwa-langka-yang-menerangi-langit">Gerhana Bulan Parsial dan Supermoon: Peristiwa Langka yang Menerangi Langit</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gerhana Matahari Total Mempengaruhi Penentuan Idulfitri di Uni Emirat Arab</title>
		<link>https://www.seketika.com/gerhana-matahari-total-mempengaruhi-penentuan-idulfitri-di-uni-emirat-arab</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Mar 2024 13:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana matahari]]></category>
		<category><![CDATA[gerhana total]]></category>
		<category><![CDATA[Idul Fitri]]></category>
		<category><![CDATA[Uni Emirat Arab]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=11410</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/gerhana-matahari-total-mempengaruhi-penentuan-idulfitri-di-uni-emirat-arab">Gerhana Matahari Total Mempengaruhi Penentuan Idulfitri di Uni Emirat Arab</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Jalur Gerhana Matahari Total akan membentang dari Samudera Pasifik hingga Atlantik dengan lebar sekitar 162-200 kilometer&#8221;</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Jakarta –  Fenomena Gerhana Matahari Total diprediksi akan terjadi pada 8 April 2024, yang bertepatan dengan menjelang Idulfitri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Asosiasi Astronomi Uni Emirat Arab (UAE), peristiwa langka ini akan berdampak signifikan pada penentuan awal bulan Syawal di wilayah mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketua Asosiasi Astronomi UAE, Al Jarwan, menjelaskan bahwa Gerhana Matahari Total akan menyulitkan pengamatan bulan sabit Syawal setelah matahari terbenam pada 8 April mendatang. Dampaknya, bulan sabit Syawal diperkirakan baru akan terlihat pada 9 April 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penentuan awal bulan Syawal memiliki signifikansi dalam menentukan akhir dari bulan Ramadan, suatu momen penting dalam agama Islam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Asosiasi Astronomi UAE memperkirakan bahwa Idulfitri kemungkinan besar akan jatuh pada 10 April 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">NASA telah menyatakan bahwa Gerhana Matahari Total yang terjadi pada 8 April mendatang akan dapat diamati dari beberapa wilayah di Bumi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini diperkirakan akan melintasi Amerika Utara, Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada.</p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/gerhana-matahari-total-mempengaruhi-penentuan-idulfitri-di-uni-emirat-arab">Gerhana Matahari Total Mempengaruhi Penentuan Idulfitri di Uni Emirat Arab</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
