<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Sains Archives - seketika.com</title>
	<atom:link href="https://www.seketika.com/tag/sains/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.seketika.com/tag/sains</link>
	<description>Independen Menjangkau Dunia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Apr 2026 01:34:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.seketika.com/wp-content/uploads/2024/12/Seketikacom-favicon-96x96-1-80x80.png</url>
	<title>Sains Archives - seketika.com</title>
	<link>https://www.seketika.com/tag/sains</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Langit Lampung–Banten Heboh! Meteor Ternyata Sampah Roket Tiongkok, Ini Penjelasan Resminya</title>
		<link>https://www.seketika.com/langit-lampung-banten-heboh-meteor-ternyata-sampah-roket-tiongkok-ini-penjelasan-resminya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 01:34:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pemerintahan]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Viral]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Berita Viral]]></category>
		<category><![CDATA[BRIN]]></category>
		<category><![CDATA[CZ-3B]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena langit]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[roket Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[sampah antariksa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=35391</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/langit-lampung-banten-heboh-meteor-ternyata-sampah-roket-tiongkok-ini-penjelasan-resminya">Langit Lampung–Banten Heboh! Meteor Ternyata Sampah Roket Tiongkok, Ini Penjelasan Resminya</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Seketika.com</a>, Jakarta – Fenomena objek terang yang melintas di langit wilayah Lampung dan Banten serta viral di media sosial akhirnya terungkap. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa benda tersebut merupakan sampah antariksa berupa sisa roket Tiongkok CZ-3B yang memasuki atmosfer Bumi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin mengatakan objek tersebut terlihat mencolok karena memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi dan mengalami gesekan kuat dengan udara, sehingga terbakar dan tampak terang dari permukaan Bumi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">“Objek terang yang terlihat di langit itu adalah pecahan sampah antariksa. Ketika memasuki atmosfer yang semakin padat, benda tersebut terbakar dan pecah, sehingga terlihat seperti serpihan cahaya,” jelas Thomas seperti dikutip dalam keterangan Humas BRIN, Minggu (5/4/2026).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, fenomena tersebut juga menyebabkan objek tampak terpecah menjadi beberapa bagian sebagaimana disaksikan masyarakat di wilayah Lampung dan Banten.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan data Space-Track dan hasil analisis orbit, sisa roket tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di sebelah barat Sumatra. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada sekitar pukul 19.56 WIB, ketinggiannya turun hingga di bawah 120 kilometer dan memasuki lapisan atmosfer yang lebih padat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada ketinggian tersebut, hambatan udara meningkat drastis sehingga objek kehilangan kecepatan dan ketinggian secara cepat. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses ini memicu gesekan intens yang menghasilkan panas tinggi, menyebabkan benda terbakar dan terfragmentasi menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya jatuh ke permukaan Bumi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">BRIN memperkirakan pecahan benda tersebut kemungkinan besar jatuh tersebar di kawasan hutan atau di laut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Thomas menjelaskan bahwa fenomena jatuhnya sampah antariksa bukan hal yang langka secara global, namun kejadian yang dapat disaksikan langsung saat melintas di wilayah Indonesia tergolong jarang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Peristiwa serupa terakhir kali terjadi pada 2022, ketika objek sejenis terlihat di Lampung dan jatuh di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa fenomena ini pada umumnya tidak membahayakan masyarakat karena sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Risiko baru muncul apabila ada bagian yang tidak terbakar sempurna dan jatuh di area permukiman. Namun, hingga saat ini kondisi tersebut belum pernah terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia juga menjelaskan bahwa penyebab utama sampah antariksa jatuh ke Bumi adalah adanya hambatan udara pada orbit rendah. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bekas roket atau satelit yang sudah tidak aktif akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer, sehingga ketinggiannya terus menurun hingga akhirnya masuk ke lapisan atmosfer padat dan terbakar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">BRIN mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik apabila melihat fenomena serupa pada masa mendatang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini dinilai sebagai bagian dari dinamika aktivitas antariksa global yang dapat diamati secara ilmiah, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan literasi publik terkait sains dan keantariksaan(BRIN).</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/langit-lampung-banten-heboh-meteor-ternyata-sampah-roket-tiongkok-ini-penjelasan-resminya">Langit Lampung–Banten Heboh! Meteor Ternyata Sampah Roket Tiongkok, Ini Penjelasan Resminya</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>53 Tahun Vakum, NASA Siap Kirim Manusia ke Bulan Lagi Pekan Ini, Misi Artemis II Ukir Sejarah Baru</title>
		<link>https://www.seketika.com/53-tahun-vakum-nasa-siap-kirim-manusia-ke-bulan-lagi-pekan-ini-misi-artemis-ii-ukir-sejarah-baru</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2026 02:09:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Artemis II]]></category>
		<category><![CDATA[Astronaut]]></category>
		<category><![CDATA[eksplorasi luar angkasa]]></category>
		<category><![CDATA[Misi Bulan]]></category>
		<category><![CDATA[nasa]]></category>
		<category><![CDATA[Orion]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[Space Launch System]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=35246</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/53-tahun-vakum-nasa-siap-kirim-manusia-ke-bulan-lagi-pekan-ini-misi-artemis-ii-ukir-sejarah-baru">53 Tahun Vakum, NASA Siap Kirim Manusia ke Bulan Lagi Pekan Ini, Misi Artemis II Ukir Sejarah Baru</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Seketika.com</a>, Teknologi – NASA resmi memulai hitung mundur peluncuran misi Artemis II pada Senin (30/3/2026), menandai langkah bersejarah kembalinya manusia ke Bulan setelah lebih dari lima dekade.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misi Artemis II akan menjadi penerbangan berawak pertama NASA ke orbit Bulan sejak era Apollo. Roket Space Launch System (SLS) setinggi sekitar 32 lantai dijadwalkan lepas landas pada Rabu malam, membawa empat astronaut dalam kapsul Orion.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Awak misi ini merupakan gabungan astronaut Amerika Serikat dan Kanada. Mereka mencetak sejarah sebagai kru Artemis pertama yang mencakup perempuan, orang kulit berwarna, serta astronaut non-AS.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu astronaut, Victor Glover, menekankan pentingnya representasi dalam eksplorasi luar angkasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saya ingin anak-anak melihat kami dan merasa mereka juga bisa mencapai hal yang sama,” ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peluncuran dijadwalkan berlangsung dalam jendela waktu enam hari pada awal April dari Kennedy Space Center, Florida, AS. Jika tertunda, peluncuran akan dijadwalkan ulang pada akhir bulan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misi ini menjadi tonggak penting dalam program Artemis yang bertujuan mengembalikan manusia ke Bulan dan membuka jalan bagi eksplorasi Mars. Selain itu, misi ini juga menandai era baru eksplorasi yang lebih inklusif dibandingkan program Apollo (1968–1972).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah peluncuran, kapsul Orion akan mengorbit Bumi selama satu hari sebelum melanjutkan perjalanan menuju Bulan. Misi ini tidak akan mendarat di permukaan, melainkan melakukan manuver mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi.</p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/53-tahun-vakum-nasa-siap-kirim-manusia-ke-bulan-lagi-pekan-ini-misi-artemis-ii-ukir-sejarah-baru">53 Tahun Vakum, NASA Siap Kirim Manusia ke Bulan Lagi Pekan Ini, Misi Artemis II Ukir Sejarah Baru</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fenomena Langka, Cincin Saturnus Akan &#8220;Menghilang&#8221; pada 23 Maret 2025</title>
		<link>https://www.seketika.com/fenomena-langka-cincin-saturnus-akan-menghilang-pada-23-maret-2025</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2025 15:58:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[planet]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[saturnus]]></category>
		<category><![CDATA[sturnus]]></category>
		<category><![CDATA[tata surya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=25123</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/fenomena-langka-cincin-saturnus-akan-menghilang-pada-23-maret-2025">Fenomena Langka, Cincin Saturnus Akan &#8220;Menghilang&#8221; pada 23 Maret 2025</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Seketika.com</a>, SAINS &#8211; Saturnus, planet terbesar kedua di Tata Surya yang dikenal dengan sistem cincinnya yang ikonik, akan mengalami fenomena langka. Pada 23 Maret 2025, cincin Saturnus akan tampak menghilang dari pandangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini terjadi akibat kemiringan Saturnus saat mengorbit Matahari, yang membuat cincinnya sejajar dengan sudut pandang dari Bumi. Peristiwa serupa hanya terjadi setiap 29,5 tahun sekali, sebagaimana dikutip dari Unilad, Selasa (11/3/2025).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, cincin Saturnus tidak benar-benar menghilang. Pada 21 September 2025, cincin akan kembali terlihat dengan kecerahan maksimal. Meski demikian, fenomena serupa akan terjadi lagi pada November 2025, sekitar sembilan bulan setelah kejadian pertama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain fenomena sementara ini, para ilmuwan juga mengungkapkan bahwa cincin Saturnus memang dapat menghilang sepenuhnya—tetapi dalam waktu yang sangat lama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut penelitian, cincin Saturnus diperkirakan akan lenyap dalam kurun waktu sekitar 300 juta tahun. Data dari wahana antariksa Cassini milik NASA pada 2017 juga menyebutkan bahwa cincin ini mungkin akan hilang dalam waktu sekitar 100 juta tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa faktor yang menyebabkan cincin Saturnus perlahan memudar, antara lain:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li>Radiasi ultraviolet (UV) dari Matahari, yang menyebabkan partikel es di cincin menguap.</li>



<li>Tabrakan dengan meteoroid, yang dapat menghancurkan bagian-bagian cincin.</li>
</ul>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah Penemuan Cincin Saturnus<br>Cincin Saturnus pertama kali ditemukan oleh astronom legendaris Galileo Galilei pada tahun 1610. Sejak itu, para ilmuwan terus mengamati dan meneliti fenomena unik ini.</p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/fenomena-langka-cincin-saturnus-akan-menghilang-pada-23-maret-2025">Fenomena Langka, Cincin Saturnus Akan &#8220;Menghilang&#8221; pada 23 Maret 2025</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NASA Ungkap Fakta Baru, Bumi Tidak Secara Langsung Mengelilingi Matahari</title>
		<link>https://www.seketika.com/nasa-ungkap-fakta-baru-bumi-tidak-secara-langsung-mengelilingi-matahari</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Dec 2024 07:35:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[astronomi]]></category>
		<category><![CDATA[bumi]]></category>
		<category><![CDATA[matahari]]></category>
		<category><![CDATA[nasa]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=22679</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/nasa-ungkap-fakta-baru-bumi-tidak-secara-langsung-mengelilingi-matahari">NASA Ungkap Fakta Baru, Bumi Tidak Secara Langsung Mengelilingi Matahari</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Seketika.com</a>, SAINS &#8211; Selama ini, kita diajarkan bahwa Bumi dan planet-planet lainnya mengorbit Matahari sebagai pusat Tata Surya. Namun, penjelasan ilmiah terbaru menunjukkan bahwa kenyataannya lebih kompleks. Hukum Ketiga Kepler dan konsep gravitasi dua arah mengungkapkan fakta menarik tentang bagaimana Tata Surya bekerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Hukum Ketiga Kepler, orbit planet tidak hanya bergantung pada satu objek pusat. Hukum ini menjelaskan hubungan antara massa dua benda yang saling berinteraksi secara gravitasi dan menentukan parameter orbit mereka. Dalam hal ini, Bumi dan planet-planet lain sebenarnya tidak mengelilingi Matahari secara langsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penjelasan lebih rinci dari NASA mengungkapkan istilah &#8220;barycenter,&#8221; yaitu pusat massa bersama antara dua benda yang berinteraksi secara gravitasi. Pusat ini adalah titik di mana kedua benda tersebut &#8220;mengorbit,&#8221; meskipun ukuran dan massa mereka sangat berbeda. Dalam konteks Tata Surya, barycenter sering kali berada di dekat Matahari karena massanya yang sangat besar. Namun, pengaruh gravitasi dari planet masif seperti Jupiter dan Saturnus membuat barycenter ini sering berada di luar inti Matahari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">James O&#8217;Donoghue, seorang astronom planet dan komunikator sains, juga mengonfirmasi hal ini melalui unggahannya di akun X (sebelumnya Twitter). Ia menjelaskan bahwa meskipun planet-planet secara umum mengorbit Matahari, secara teknis mereka mengorbit barycenter, titik pusat gravitasi bersama yang tidak selalu berada di dalam Matahari. &#8220;Gravitasi Jupiter, misalnya, sering kali membuat planet-planet mengorbit di titik baru di luar angkasa, bukan langsung ke Matahari,&#8221; ujarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena serupa juga terjadi antara Bumi dan Bulannya. Bulan tidak mengorbit tepat di pusat Bumi. Sebaliknya, ia mengorbit sekitar 5.000 kilometer dari inti Bumi. Posisi barycenter ini terus berubah karena Bulan perlahan menjauhi Bumi setiap tahunnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep barycenter telah menjadi alat penting bagi para astronom untuk mendeteksi sistem planet di sekitar bintang-bintang jauh. Dengan memahami gerakan bintang yang &#8220;mengelilingi&#8221; barycenter bersama planetnya, para ilmuwan dapat mengidentifikasi keberadaan planet di luar Tata Surya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengetahuan ini memberikan perspektif baru tentang dinamika gravitasi di Tata Surya dan menjelaskan bahwa orbit Bumi dan planet-planet lainnya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Tata Surya adalah sistem yang kompleks, di mana semua benda langit saling memengaruhi melalui gravitasi.</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/nasa-ungkap-fakta-baru-bumi-tidak-secara-langsung-mengelilingi-matahari">NASA Ungkap Fakta Baru, Bumi Tidak Secara Langsung Mengelilingi Matahari</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penemuan Fosil Quaestio Simpsonorum, Spesies Tertua di Bumi</title>
		<link>https://www.seketika.com/penemuan-fosil-quaestio-simpsonorum-spesies-tertua-di-bumi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Oct 2024 10:12:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmuan]]></category>
		<category><![CDATA[Penemuan]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=20722</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/penemuan-fosil-quaestio-simpsonorum-spesies-tertua-di-bumi">Penemuan Fosil Quaestio Simpsonorum, Spesies Tertua di Bumi</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com, </a>Sains &#8211; Ahli paleontologi telah menemukan fosil hewan yang diyakini sebagai salah satu spesies tertua yang mampu bergerak di bumi. Fosil tersebut ditemukan di pedalaman Australia dan diidentifikasi sebagai Quaestio simpsonorum, yang hidup sekitar 555 juta tahun lalu, pada periode Ediacaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penemuan ini memberikan wawasan baru tentang evolusi kehidupan multiseluler di bumi.Fosil Hewan Tertua dengan Asimetri TubuhProfesor geologi dari Universitas Negeri Florida, Scott Evans, dan timnya mengungkapkan bahwa Quaestio merupakan salah satu hewan paling awal yang memiliki asimetri kiri-kanan, sebuah fitur yang membedakan antara sisi kiri dan kanan tubuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Spesies ini diperkirakan menggunakan mekanisme genetik serupa dengan hewan modern untuk membedakan kedua sisi tubuhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Bentuk tubuhnya menyerupai tanda tanya di bagian tengah, yang memberikan keunikan pada bentuk tubuhnya,&#8221; kata Evans dalam sebuah wawancara dengan Newsweek.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Quaestio simpsonorum berukuran kecil, hampir seukuran telapak tangan manusia. Hewan ini kemungkinan besar hidup di dasar laut yang berlendir dan menggunakan tubuhnya untuk bergerak serta menyerap nutrisi dari lingkungannya, seperti alga, bakteri, dan organisme mikroskopis lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penemuan Fosil Jejak: Bukti Kemampuan Bergerak</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang membuat penemuan ini semakin menarik adalah jejak fosil yang ditemukan di sekitar fosil tubuh Quaestio. Jejak tersebut merupakan bukti bahwa organisme ini mampu bergerak, menjadikannya salah satu hewan pertama yang menunjukkan kemampuan mobilitas di bumi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Itu adalah tanda yang jelas bahwa organisme ini bisa bergerak,&#8221; ujar Ian Hughes, seorang mahasiswa pascasarjana di bidang biologi organisme dan evolusi dari Harvard University. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Hughes menjelaskan bahwa fosil jejak memberikan gambaran tentang perilaku hewan ini selama hidupnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pergerakan Seperti Robot Penyedot Debu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, para ilmuwan memperkirakan bahwa Quaestio simpsonorum bergerak di dasar laut dengan cara yang mirip dengan Roomba, robot penyedot debu otomatis. Hewan ini diduga bergerak sambil menyedot nutrisi dari lingkungannya, menciptakan jejak di dasar laut purba yang menjadi fosil yang ditemukan hari ini.Langkah Selanjutnya dalam PenelitianPenemuan ini terjadi di Taman Nasional Nilpena Ediacara di Australia, sebuah situs penting bagi penelitian kehidupan awal di bumi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para ilmuwan berencana melanjutkan penggalian untuk menemukan lebih banyak spesies dan jejak fosil lainnya dari periode Ediacaran, yang terkenal sebagai masa pertama kemunculan kehidupan multiseluler yang kompleks.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kami masih menemukan hal-hal baru setiap kali menggali. Ekosistem hewan-hewan pertama ini sudah sangat beragam, memberikan banyak informasi tentang evolusi kehidupan,&#8221; ujar Hughes.</p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/penemuan-fosil-quaestio-simpsonorum-spesies-tertua-di-bumi">Penemuan Fosil Quaestio Simpsonorum, Spesies Tertua di Bumi</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>12.573 Madrasah Ikuti Ujian Komprehensif di Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) 2024</title>
		<link>https://www.seketika.com/12-573-madrasah-ikuti-ujian-komprehensif-di-asesmen-kompetensi-madrasah-indonesia-akmi-2024</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Aug 2024 00:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[AKMI 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Asesmen Kompetensi Madrasah]]></category>
		<category><![CDATA[Kemenag RI]]></category>
		<category><![CDATA[Kementerian Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[Numerasi]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sains]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=18285</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/12-573-madrasah-ikuti-ujian-komprehensif-di-asesmen-kompetensi-madrasah-indonesia-akmi-2024">12.573 Madrasah Ikuti Ujian Komprehensif di Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) 2024</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Jakarta – Kementerian Agama Republik Indonesia baru-baru ini mengadakan Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) secara serentak di 12.573 madrasah di seluruh Indonesia. Pelaksanaan asesmen ini berlangsung dari tanggal 19 hingga 30 Agustus 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, M. Sidik Sisdiyanto, menjelaskan bahwa tujuan utama AKMI adalah untuk mengukur kompetensi siswa madrasah dalam empat aspek penting: </p>



<p class="wp-block-paragraph">literasi membaca, numerasi, sains, dan literasi sosial budaya. Data yang diperoleh dari AKMI akan digunakan sebagai dasar untuk perbaikan mutu pembelajaran di madrasah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sebanyak 530.486 siswa dari 34 provinsi mengikuti AKMI tahun ini. Rinciannya adalah 156.756 siswa kelas V Madrasah Ibtidaiyah, 255.398 siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah, dan 118.132 siswa kelas XI Madrasah Aliyah,” jelas M. Sidik Sisdiyanto saat meninjau pelaksanaan AKMI di MIN 4 Jakarta Selatan pada Senin, 19 Agustus 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sidik menambahkan bahwa asesmen ini merupakan metode penilaian komprehensif untuk mendiagnosis kekuatan dan kelemahan siswa dalam aspek literasi membaca, numerasi, sains, serta sosial budaya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">“Hasil asesmen dapat dijadikan referensi akademik dalam mendiagnosis kompetensi siswa madrasah dan juga sebagai dasar untuk perbaikan pembelajaran serta pengembangan kebijakan terkait,” ujar Sidik.</p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/12-573-madrasah-ikuti-ujian-komprehensif-di-asesmen-kompetensi-madrasah-indonesia-akmi-2024">12.573 Madrasah Ikuti Ujian Komprehensif di Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) 2024</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
