<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>UM Archives - seketika.com</title>
	<atom:link href="https://www.seketika.com/topic/um/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.seketika.com/topic/um</link>
	<description>Independen Menjangkau Dunia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 Oct 2024 15:02:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.seketika.com/wp-content/uploads/2024/12/Seketikacom-favicon-96x96-1-80x80.png</url>
	<title>UM Archives - seketika.com</title>
	<link>https://www.seketika.com/topic/um</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kontak Manusia dalam Penggunaan Internet sebagai Media Penanganan Gangguan Depresi</title>
		<link>https://www.seketika.com/kontak-manusia-dalam-penggunaan-internet-sebagai-media-penanganan-gangguan-depresi</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Oct 2024 18:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Akses Pengobatan]]></category>
		<category><![CDATA[Depresi]]></category>
		<category><![CDATA[Gangguan Mental]]></category>
		<category><![CDATA[Intervensi Berbasis Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[Naufal Al Harist]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobatan Depresi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Terapi Online]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=20834</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/kontak-manusia-dalam-penggunaan-internet-sebagai-media-penanganan-gangguan-depresi">Kontak Manusia dalam Penggunaan Internet sebagai Media Penanganan Gangguan Depresi</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Seketika.com</a>, Jakarta – Tak dapat dipungkiri, depresi merupakan salah satu gangguan mental yang paling umum terjadi di dunia. Dengan perkiraan sekitar 280 juta individu di seluruh dunia terdiagnosis depresi, permasalahan gangguan mental ini tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski telah banyak dikembangkan metode pengobatan dan penanganan yang efektif, tidak semua orang dapat dengan mudah mengakses hal tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Akses terhadap penanganan dan pengobatan gangguan mental yang tidak merata masihlah menjadi permasalahan utama dalam penanggulangan kasus depresi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu solusi terhadap permasalahan akses penanganan ini adalah dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, yaitu Intervensi Berbasis Internet (<em>Internet-Based Intervension</em>) (IBI). </p>



<p class="wp-block-paragraph">IBI adalah program yang dirancang untuk membantu orang mengatasi depresi melalui modul-modul online yang dapat diakses secara mandiri. Program-program ini biasanya mencakup sekitar 6 hingga 12 minggu sesi terapi, yang terdiri dari materi berbasis teks, video, atau audio, serta latihan yang bisa dilakukan sendiri. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Keuntungan dari IBI adalah aksesibilitasnya yang tinggi pengguna dapat mengikuti program di mana saja dan kapan saja. Program IBI ini memungkinkan pengguna untuk mengikuti serangkaian sesi secara mandiri melalui komputer atau ponsel.</p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/kontak-manusia-dalam-penggunaan-internet-sebagai-media-penanganan-gangguan-depresi">Kontak Manusia dalam Penggunaan Internet sebagai Media Penanganan Gangguan Depresi</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengurangi Jumlah Perokok: Cara Efektif Menghadapi Tantangan Kesehatan Global</title>
		<link>https://www.seketika.com/mengurangi-jumlah-perokok-cara-efektif-menghadapi-tantangan-kesehatan-global</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Oct 2024 07:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Anti Rokok]]></category>
		<category><![CDATA[Kampanye Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesadaran Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kukuh Setyo Pambudi]]></category>
		<category><![CDATA[Larangan Merokok]]></category>
		<category><![CDATA[pajak rokok]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Universitas Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Tembakau]]></category>
		<category><![CDATA[UM]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=20221</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/mengurangi-jumlah-perokok-cara-efektif-menghadapi-tantangan-kesehatan-global">Mengurangi Jumlah Perokok: Cara Efektif Menghadapi Tantangan Kesehatan Global</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Kesehatan – Tembakau merupakan salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia, menyebabkan 8,7 juta kematian setiap tahun. Banyak negara telah menerapkan kebijakan untuk mengurangi konsumsi tembakau, namun efektivitasnya beragam. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu intervensi paling efektif adalah kampanye anti-rokok. Kampanye ini, terutama melalui media massa, mampu meningkatkan upaya berhenti merokok hingga 16%. Menurut penelitian, semakin sering dan intensif kampanye dilakukan, semakin besar dampaknya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Kampanye yang didukung oleh peringatan kesehatan bergambar pada kemasan rokok juga terbukti meningkatkan niat berhenti merokok hingga 69%.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peringatan kesehatan, terutama yang grafis, efektif meningkatkan kesadaran perokok terhadap risiko kesehatan. Negara seperti Kanada telah melihat perubahan signifikan, di mana 90% perokok memperhatikan peringatan tersebut, dan 44% mengaku berniat berhenti merokok. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di negara lain, efeknya bervariasi, tetapi peringatan tetap menjadi salah satu cara yang paling murah dan efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebijakan lain yang sangat efektif adalah kenaikan pajak rokok. Ketika harga rokok naik, konsumsi cenderung turun, terutama di kalangan anak muda dan kelompok berpenghasilan rendah. </p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/mengurangi-jumlah-perokok-cara-efektif-menghadapi-tantangan-kesehatan-global">Mengurangi Jumlah Perokok: Cara Efektif Menghadapi Tantangan Kesehatan Global</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kecerdasan Finansial: Mengenal Kecerdasan Finansial dan Cara Meningkatkannya</title>
		<link>https://www.seketika.com/kecerdasan-finansial-mengenal-kecerdasan-finansial-dan-cara-meningkatkannya</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Sep 2024 01:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Finansial]]></category>
		<category><![CDATA[Literasi Finansial]]></category>
		<category><![CDATA[Manajemen Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Rayhan I’tisham]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Perilaku Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Universitas Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[UM]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=19321</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/kecerdasan-finansial-mengenal-kecerdasan-finansial-dan-cara-meningkatkannya">Kecerdasan Finansial: Mengenal Kecerdasan Finansial dan Cara Meningkatkannya</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Bisnis – Kecerdasan finansial adalah diksi yang sering terdengar dan digunakan pada beberapa dekade belakangan ini. Meningkatnya jumlah investor terutama investor muda di Indonesia pasca pandemi dan melalui upaya sosialisasi dan tren nabung saham menjadikan kecerdasan finansial menjadi salah satu bagian dari kecerdasan yang dianggap penting. </p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Namun, apa itu kecerdasan finansial?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebetulnya, kecerdasan finansial adalah topik yang cukup baru dan belum dianalisis secara akademis dan secara luas. Selama ini kecerdasan finansial dimaknai sebatas pengetahuan tentang keuangan, yang mana ini menimbulkan tumpang tindih dengan literasi finansial yang sudah eksis lebih lama sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun baru-baru ini, mahasiswa Fakultas Psikologi UM (Universitas Negeri Malang) melakukan penelitian untuk mendefinisikan dan menyelesaikan masalah tumpang tindih antara kecerdasan finansial dan literasi finansial. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di bawah bimbingan utama dari Dr. Tutut Chusniyah, S.Psi., M.Si. yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi UM, kecerdasan finansial didefinisikan sebagai kemampuan mental dalam mengelaborasikan pengetahuan dan emosi untuk memecahkan masalah-masalah finansial. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut definisi ini, posisi kecerdasan finansial tidak hanya sebatas pengetahuan finansial saja, tapi juga kemampuan mental, terutama emosi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal itu karena perilaku pengelolaan keuangan, seperti keputusan keuangan sangat melibatkan emosi. Meski berdasar ilmu ekonomi, perilaku ekonomi melibatkan hitungan angka rasional, namun pada kenyataannnya perilaku ekonomi manusia merupakan perilaku yang irasional.</p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/kecerdasan-finansial-mengenal-kecerdasan-finansial-dan-cara-meningkatkannya">Kecerdasan Finansial: Mengenal Kecerdasan Finansial dan Cara Meningkatkannya</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menemukan Jejak Ritual Kuno: Memahami Budaya Abadi dan Dampaknya bagi Psikologi di Indonesia</title>
		<link>https://www.seketika.com/menemukan-jejak-ritual-kuno-memahami-budaya-abadi-dan-dampaknya-bagi-psikologi-di-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Aug 2024 05:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Cloggs Cave]]></category>
		<category><![CDATA[GunaiKurnai]]></category>
		<category><![CDATA[Identitas Psikologis]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Kesejahteraan Psikologis]]></category>
		<category><![CDATA[Kukuh Setyo Pambudi]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian Arkeologi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Ritual Kuno]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi Kuno]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Malang]]></category>
		<category><![CDATA[warisan budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=18685</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/menemukan-jejak-ritual-kuno-memahami-budaya-abadi-dan-dampaknya-bagi-psikologi-di-indonesia">Menemukan Jejak Ritual Kuno: Memahami Budaya Abadi dan Dampaknya bagi Psikologi di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Gaya Hidup – Ritual kuno yang tertanam dalam budaya masyarakat adat seringkali menjadi jendela yang membuka pemahaman mendalam tentang warisan psikologis yang diwariskan turun-temurun. Temuan baru dari Cloggs Cave di Australia Tenggara, yang diungkapkan melalui penelitian arkeologi mutakhir, memberikan wawasan tak ternilai tentang daya tahan budaya dan relevansinya bagi para psikolog di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Studi ini membuka peluang baru untuk memahami bagaimana warisan budaya dapat membentuk identitas psikologis individu dan masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jejak Budaya yang Bertahan 12.000 Tahun</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Human Behaviour menunjukkan bagaimana tradisi ritual masyarakat adat GunaiKurnai bertahan selama lebih dari 12.000 tahun. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Temuan ini mencakup instalasi ritual yang tersembunyi di dalam gua, terdiri dari perapian mini dengan artefak kayu yang dilumuri lemak hewan atau manusia. Yang luar biasa, konfigurasi ini sangat mirip dengan deskripsi ritual yang didokumentasikan oleh etnografer pada abad ke-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi para psikolog di Indonesia, penelitian ini menggarisbawahi pentingnya memahami konteks budaya dalam menilai perilaku individu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti halnya ritual GunaiKurnai yang berhasil diwariskan dari generasi ke generasi, budaya Indonesia yang kaya dan beragam juga memiliki lapisan-lapisan tradisi yang terus mempengaruhi psikologi modern masyarakatnya.</p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/menemukan-jejak-ritual-kuno-memahami-budaya-abadi-dan-dampaknya-bagi-psikologi-di-indonesia">Menemukan Jejak Ritual Kuno: Memahami Budaya Abadi dan Dampaknya bagi Psikologi di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menilik Dampak Positif Video Game terhadap Kesejahteraan Mental di Tengah Pandemi: Refleksi untuk Indonesia</title>
		<link>https://www.seketika.com/menilik-dampak-positif-video-game-terhadap-kesejahteraan-mental-di-tengah-pandemi-refleksi-untuk-indonesia</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Aug 2024 22:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Hiburan Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[Kesejahteraan Mental]]></category>
		<category><![CDATA[Kukuh Setyo Pambudi]]></category>
		<category><![CDATA[Nintendo Switch]]></category>
		<category><![CDATA[Pandemi COVID-19]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[PlayStation 5]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Regulasi Video Game]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Video Game]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=18670</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/menilik-dampak-positif-video-game-terhadap-kesejahteraan-mental-di-tengah-pandemi-refleksi-untuk-indonesia">Menilik Dampak Positif Video Game terhadap Kesejahteraan Mental di Tengah Pandemi: Refleksi untuk Indonesia</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Teknologi – Di tengah perdebatan global mengenai dampak video game terhadap kesehatan mental, sebuah penelitian baru dari Jepang yang terbit di jurnal Nature memberikan perspektif yang mengejutkan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Studi ini menunjukkan bahwa bermain video game justru dapat meningkatkan kesejahteraan mental, terutama di tengah situasi pandemi COVID-19. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Temuan ini menantang pandangan umum yang sering kali mengasosiasikan video game dengan dampak negatif seperti kecanduan dan gangguan kesehatan mental. Lalu, apa relevansinya bagi kita di Indonesia?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Video Game sebagai Pelipur Lara di Masa Pandemi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pandemi COVID-19 memaksa miliaran orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, untuk menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Pembatasan sosial yang ketat memicu peningkatan signifikan dalam aktivitas digital, termasuk bermain video game. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Jepang, penelitian yang dilakukan dari tahun 2020 hingga 2022 menemukan bahwa kepemilikan konsol game, seperti Nintendo Switch dan PlayStation 5, berkorelasi dengan peningkatan kesejahteraan mental. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Studi tersebut menemukan bahwa individu yang memiliki konsol game mengalami penurunan tingkat stres psikologis dan peningkatan kepuasan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Indonesia, situasi serupa juga terjadi. Dengan lonjakan pengguna internet yang mencapai lebih dari 73% dari total populasi pada tahun 2021, video game menjadi salah satu bentuk hiburan utama selama masa pandemi. </p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/menilik-dampak-positif-video-game-terhadap-kesejahteraan-mental-di-tengah-pandemi-refleksi-untuk-indonesia">Menilik Dampak Positif Video Game terhadap Kesejahteraan Mental di Tengah Pandemi: Refleksi untuk Indonesia</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Love Language: Mitos Populer atau Fakta Ilmiah?</title>
		<link>https://www.seketika.com/love-language-mitos-populer-atau-fakta-ilmiah</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Aug 2024 21:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta dan Hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[Gary Chapman]]></category>
		<category><![CDATA[Hubungan Bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[Keseimbangan Emosional]]></category>
		<category><![CDATA[Konsep Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Love Language]]></category>
		<category><![CDATA[Naufal Al Harist]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi Hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Love Language]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=18591</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/love-language-mitos-populer-atau-fakta-ilmiah">Love Language: Mitos Populer atau Fakta Ilmiah?</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Gaya Hidup – Pernahkah terbersit dalam benak kamu, apakah berbicara dengan <em>Love Language</em> pasangan kamu dapat menjadi rahasia hubungan yang bahagia? Gagasan ini telah mendapatkan popularitas yang luar biasa, tetapi seberapa ilmiahkah hal ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep dari <em>love language</em> dipopulerkan oleh Gary Chapman dalam bukunya yang berjudul ‘<em>The 5 Love Language</em>’ . </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak awal publikasinya pada tahun 1992, buku tersebut berhasil mendapatkan popularitas yang tinggi dengan telah menjual lebih dari 20 juta eksemplar di seluruh dunia dan telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Chapman memaparkan bahwa terdapat suatu perbedaan sistematis dalam cara-cara yang disukai seseorang untuk mengekspresikan dan menerima cinta, yang disebut sebagai <em>love language</em>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep <em>love language</em> ini memiliki tiga bagian penting, yaitu:</p>



<p class="wp-block-paragraph">1. Setiap individu memiliki satu love language utama yang ia gunakan paling sering ketika mengekspresikan dan merasakan rasa cinta</p>



<p class="wp-block-paragraph">2. Terdapat lima kategori love language yaitu:</p>



<ul class="wp-block-list">
<li><em>words of affirmation</em> (ekspresi verbal dari apresiasi, pujian, atau penyemangat),</li>



<li><em>quality time</em> (waktu yang disengaja untuk dihabiskan bersama dengan perhatian penuh)</li>



<li><em>receiving gifts</em> (tanda penghargaan berbentuk fisik)</li>



<li><em>acts of service</em> (dukungan praktikal melalui tindakan), dan</li>



<li><em>physical touch </em>(kontak fisik mulai dari berpegangan tangan hingga interaksi seksual)</li>
</ul>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/love-language-mitos-populer-atau-fakta-ilmiah">Love Language: Mitos Populer atau Fakta Ilmiah?</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>TikTok dan Ilusi Kebebasan: Bagaimana Generasi Z Terjebak dalam Kontrol Psikopolitik</title>
		<link>https://www.seketika.com/tiktok-dan-ilusi-kebebasan-bagaimana-generasi-z-terjebak-dalam-kontrol-psikopolitik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Aug 2024 11:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Algoritma Media Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Byung-Chul Han]]></category>
		<category><![CDATA[Dampak Psikologis Media Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Dampak Tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[generasi Z]]></category>
		<category><![CDATA[Identitas Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Kebebasan Bereskpresi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesejahteraan Mental]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Izzudin Haq]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Psikopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[Tiktok]]></category>
		<category><![CDATA[UM]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=18581</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/tiktok-dan-ilusi-kebebasan-bagaimana-generasi-z-terjebak-dalam-kontrol-psikopolitik">TikTok dan Ilusi Kebebasan: Bagaimana Generasi Z Terjebak dalam Kontrol Psikopolitik</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Teknologi – Ketika kebebasan menjadi alat kekuasaan dalam konteks psikopolitik Byung-Chul Han, fenomena ini memiliki resonansi khusus dengan budaya generasi Z, terutama dalam platform media sosial seperti TikTok. Generasi Z, yang dikenal sebagai digital natives, tumbuh di era di mana teknologi digital dan media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari. </p>



<p class="wp-block-paragraph">TikTok, sebagai salah satu platform paling populer di kalangan mereka, menggambarkan bagaimana kebebasan untuk berekspresi dan mengikuti tren dapat menjadi alat yang digunakan oleh kekuasaan untuk mengarahkan perilaku dan membentuk identitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">TikTok menawarkan kebebasan bagi penggunanya untuk mengekspresikan diri melalui video pendek, seringkali dalam bentuk tantangan, tarian, atau meme yang viral. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi banyak anggota generasi Z, mengikuti tren ini adalah cara untuk terhubung dengan komunitas, mendapatkan pengakuan, dan membangun identitas mereka secara online. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, meskipun tampak sebagai ekspresi kebebasan, fenomena ini sebenarnya merupakan contoh bagaimana kekuasaan bekerja secara halus melalui kebebasan itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Algoritma TikTok, yang dirancang untuk meningkatkan keterlibatan dan mempertahankan perhatian pengguna, memainkan peran penting dalam menentukan tren apa yang menjadi populer. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Video yang sesuai dengan tren tertentu lebih mungkin untuk mendapatkan eksposur, yang pada gilirannya mendorong lebih banyak pengguna untuk ikut serta. </p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/tiktok-dan-ilusi-kebebasan-bagaimana-generasi-z-terjebak-dalam-kontrol-psikopolitik">TikTok dan Ilusi Kebebasan: Bagaimana Generasi Z Terjebak dalam Kontrol Psikopolitik</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Kampanye Pencegahan Kekerasan Seksual Gagal? Penelitian Ini Mengungkap Fakta Yang Menarik</title>
		<link>https://www.seketika.com/mengapa-kampanye-pencegahan-kekerasan-seksual-gagal-penelitian-ini-mengungkap-fakta-yang-menarik</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Aug 2024 04:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[ABK UMKM Mart]]></category>
		<category><![CDATA[Intervensi Bystander]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Kukuh Setyo Pambudi]]></category>
		<category><![CDATA[Pencegahan Kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[Penelitian Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan Perilaku]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Seksual]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi Pencegahan]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=18516</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/mengapa-kampanye-pencegahan-kekerasan-seksual-gagal-penelitian-ini-mengungkap-fakta-yang-menarik">Mengapa Kampanye Pencegahan Kekerasan Seksual Gagal? Penelitian Ini Mengungkap Fakta Yang Menarik</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Gaya Hidup – Kekerasan seksual merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mendesak, mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Meskipun banyak upaya telah dilakukan untuk mencegahnya, sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa strategi yang selama ini digunakan mungkin tidak seefektif yang kita pikirkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan Tradisional yang Tidak Cukup</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak tahun 1985, berbagai program pencegahan kekerasan seksual telah dirancang dengan fokus utama pada mengubah sikap, kepercayaan, dan pengetahuan masyarakat tentang kekerasan seksual. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ide dasar di balik pendekatan ini sederhana: jika kita bisa mengubah cara orang berpikir tentang kekerasan seksual, maka perilaku mereka juga akan berubah. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, sebuah meta-analisis terbaru yang dipublikasikan pada jurnal <em>Psychological science in the public interest</em> mengungkapkan bahwa meskipun program-program ini sering berhasil mengubah pandangan peserta, mereka jarang berhasil mencegah kekerasan seksual​.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penelitian ini menggunakan analisis meta untuk mengukur efektivitas intervensi yang dirancang untuk mengubah perilaku kekerasan seksual. </p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/mengapa-kampanye-pencegahan-kekerasan-seksual-gagal-penelitian-ini-mengungkap-fakta-yang-menarik">Mengapa Kampanye Pencegahan Kekerasan Seksual Gagal? Penelitian Ini Mengungkap Fakta Yang Menarik</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Terungkap! Ini Alasan Mengejutkan Mengapa Kecerdasan Buatan Tak Selalu Bisa Diandalkan dalam Dunia Medis</title>
		<link>https://www.seketika.com/terungkap-ini-alasan-mengejutkan-mengapa-kecerdasan-buatan-tak-selalu-bisa-diandalkan-dalam-dunia-medis</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Aug 2024 03:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[Diagnosis Medis]]></category>
		<category><![CDATA[Explainable AI]]></category>
		<category><![CDATA[Integrasi AI]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Buatan]]></category>
		<category><![CDATA[Kognitif AI]]></category>
		<category><![CDATA[Kukuh Setyo Pambudi]]></category>
		<category><![CDATA[Medis]]></category>
		<category><![CDATA[Perawatan Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Radiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Medis]]></category>
		<category><![CDATA[The Lancet 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=18433</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/terungkap-ini-alasan-mengejutkan-mengapa-kecerdasan-buatan-tak-selalu-bisa-diandalkan-dalam-dunia-medis">Terungkap! Ini Alasan Mengejutkan Mengapa Kecerdasan Buatan Tak Selalu Bisa Diandalkan dalam Dunia Medis</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Teknologi – Kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan dalam dunia medis, terutama dalam bidang radiologi. Namun, meskipun teknologi ini berkembang pesat, tantangan besar masih ada: bagaimana AI dan dokter dapat bekerja sama secara efektif untuk memberikan diagnosis yang tepat dan perawatan terbaik bagi pasien? </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah temuan yang dimuat dalam jurnal The Lancet pada tahun 2024 menjelaskan mengapa memahami cara kerja pikiran dokter sangat penting dalam integrasi AI di dunia medis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Mengapa Dokter dan AI &#8220;Berpikir&#8221; dengan Cara yang Berbeda?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam dunia medis, dokter sering kali membuat keputusan berdasarkan pengalaman dan intuisi yang mereka kembangkan selama bertahun-tahun. Mereka menggunakan &#8220;petunjuk&#8221; atau isyarat dari lingkungan klinis, seperti gejala pasien atau hasil tes tertentu, untuk membuat diagnosis. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses ini disebut <em>cue utilization</em>—di mana dokter menyaring informasi yang tidak relevan dan fokus pada aspek paling penting yang dapat membantu mereka membuat keputusan cepat dan akurat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, AI bekerja dengan cara yang sangat berbeda. AI didesain untuk menganalisis sejumlah besar data dan menemukan pola yang mungkin tidak terlihat oleh manusia. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, karena AI tidak &#8220;mengerti&#8221; konteks klinis seperti dokter, ia cenderung menggunakan semua informasi yang tersedia, bahkan yang tidak relevan dengan situasi medis yang sebenarnya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses ini dikenal sebagai debounding, yang berarti AI cenderung terlepas dari konteks klinis yang sering kali menjadi kunci dalam pengambilan keputusan dokter.</p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/terungkap-ini-alasan-mengejutkan-mengapa-kecerdasan-buatan-tak-selalu-bisa-diandalkan-dalam-dunia-medis">Terungkap! Ini Alasan Mengejutkan Mengapa Kecerdasan Buatan Tak Selalu Bisa Diandalkan dalam Dunia Medis</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Achievement Society: Sebuah Pengantar Singkat Psikopolitik Byung-Chul Han</title>
		<link>https://www.seketika.com/achievement-society-sebuah-pengantar-singkat-psikopolitik-byung-chul-han</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[redaksi Seketika]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Aug 2024 05:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Achievement Society]]></category>
		<category><![CDATA[Byung-Chul Han]]></category>
		<category><![CDATA[Depresi dan Kecemasan]]></category>
		<category><![CDATA[Filosofi Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan mental]]></category>
		<category><![CDATA[Kontrol Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Kuasa Positif]]></category>
		<category><![CDATA[Narsisme Modern]]></category>
		<category><![CDATA[Naufal Al Harist]]></category>
		<category><![CDATA[Neoliberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi dan Isolasi]]></category>
		<category><![CDATA[UM]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Malang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.seketika.com/?p=18361</guid>

					<description><![CDATA[<p>...</p>
<p>The post <a href="https://www.seketika.com/achievement-society-sebuah-pengantar-singkat-psikopolitik-byung-chul-han">Achievement Society: Sebuah Pengantar Singkat Psikopolitik Byung-Chul Han</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.seketika.com/">Seketika.com</a>, Politik – &#8220;<em>Freedom turns out to be a form of control</em>.&#8221; Kebebasan ternyata merupakan salah satu wujud dari kontrol. Kutipan ini berasal dari Byung-Chul Han, seorang filsuf modern Jerman kelahiran Korea Selatan, yang mengamati kondisi masyarakat kontemporer abad ini. Namun, apa sebenarnya maksud dari kutipan ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Byung-Chul Han memandang bahwa kondisi masyarakat saat ini berbeda secara mendasar dari zaman sebelumnya. Pemikirannya berpusat pada bagaimana &#8216;kuasa&#8217; bekerja. Di masa lalu, masyarakat sebagian besar dikontrol melalui apa yang ia sebut sebagai &#8216;kuasa negatif&#8217; (<em>negative power</em>). </p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Negative power</em> ini dapat dipahami sebagai segala bentuk kontrol yang diterapkan melalui pembatasan atau pelarangan, seperti “kau tidak bisa melakukan itu” atau “kau seharusnya tidak melakukan itu.” </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sepanjang sejarah manusia, <em>negative power</em> adalah cara utama untuk mengontrol masyarakat.<br>Namun, Han berpendapat bahwa di zaman kapitalistik modern ini, kontrol manusia lebih sering dilakukan melalui &#8216;kuasa positif&#8217; (<em>positive power</em>). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan negative power, positive power berbunyi seperti ini:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“<em>Dirimu saat ini bisa menjadi apapun yang kamu mau! Tidak ada satu orang pun yang dapat memaksa dan menyuruhmu menjadi sesuatu; kau sendirilah yang mengemudikan hidupmu! Kau bisa menjadi ‘apapun’! Sekarang, karena kita telah menetapkan bahwa ‘kau bisa menjadi apa saja,’ saatnya untuk &#8216;kamu&#8217; memilih ingin menjadi apa. Apakah kau adalah seseorang yang tanpa tujuan atau impian yang ingin dicapai? Apakah kau adalah orang yang ingin mencapai mimpimu, atau apakah kau hanya ingin tidur-tiduran di kamar seumur hidupmu? Mau menjadi orang yang seperti apa dirimu?</em>&#8220;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya, jika kau bisa menjadi ‘apa saja,’ bukankah kau ingin menjadi seseorang yang memiliki posisi prestisius, tinggi, dan hebat sehingga tidak ada batasan dalam hidupmu? Bukankah itulah cara orang-orang dulu dikendalikan, melalui batasan dari luar dirinya? Tapi kini, kau tidak memiliki batasan apapun! Selama kau dapat bekerja sekeras mungkin, menundukkan kepala, fokus, grind, gapai tujuan jangka pendek, tetapkan tujuan baru, kemudian capai lagi, dan lagi. Satu-satunya orang yang menghalangimu untuk menjadi seorang milioner suatu saat nanti hanyalah dirimu sendiri! Dan sekarang adalah saatnya untuk menggapai tujuan-tujuan itu.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah <em>positive power. Positive power</em> mengatakan “kau bisa (<em>can</em>),” sementara <em>negative power</em> mengatakan “kau harus (<em>should</em>).” Dan sebagaimana kata Han, “<em>can</em> jauh lebih efektif daripada kenegativitas-an <em>should</em>.&#8221; Sehingga, ketidaksadaran sosial berubah dari <em>should</em> menjadi<em> can</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Han, kita hidup di zaman ‘masyarakat penghargaan’ (<em>achievement society</em>). Tidak ada yang mengarahkan moncong pistol ke kepala kita dan mengatakan apa yang harus kita lakukan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Itu adalah taktik yang sudah kuno. Yang perlu dilakukan untuk mengendalikan orang adalah memberi tahu mereka ‘semua hal yang bisa mereka lakukan secara teori,’ jika saja mereka bisa membuat diri mereka seberharga mungkin dan jika saja mereka bisa bekerja cukup keras untuk membuat pikiran mereka seefisien dan seoptimal mungkin.</p>


<p>The post <a href="https://www.seketika.com/achievement-society-sebuah-pengantar-singkat-psikopolitik-byung-chul-han">Achievement Society: Sebuah Pengantar Singkat Psikopolitik Byung-Chul Han</a> appeared first on <a href="https://www.seketika.com">seketika.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
