Call Us banner
FilmPeristiwaViral

Film Animasi Tiongkok Niu Lai Viral, Disebut “Jelek” tapi Box Office Meledak

21
×

Film Animasi Tiongkok Niu Lai Viral, Disebut “Jelek” tapi Box Office Meledak

Share this article
Film Animasi Tiongkok Niu Lai Viral, Disebut “Jelek” tapi Box Office Meledak, foto:(ap)

Seketika.com, Tren – Film animasi Tiongkok Niu Lai mendadak menjadi fenomena box office setelah awalnya justru dicemooh karena tampilan visualnya yang sederhana dan dianggap “jelek”. Dalam waktu singkat, film tentang seekor anak sapi ini mengalami lonjakan penonton setelah komentar sarkastik dan meme di media sosial justru membuatnya semakin viral.

Niu Lai awalnya bukan film yang diperhitungkan di tengah persaingan musim film musim panas China. Sepuluh hari setelah dirilis pada 5 Agustus, film tersebut hanya mengumpulkan sekitar 10.000 yuan atau sekitar US$1.480.

Pada sejumlah hari, pendapatan film bahkan disebut hanya sekitar 200 yuan. Angka tersebut tergolong sangat rendah untuk periode musim panas yang biasanya menjadi salah satu masa penting bagi industri bioskop China.

Situasinya berubah drastis. Menurut Maoyan, pendapatan Niu Lai melonjak hingga 8,2 juta yuan atau sekitar US$1,2 juta dalam satu hari, dengan hampir 300.000 penonton.

Total box office film tersebut kemudian mencapai 17,1 juta yuan atau sekitar US$2,5 juta.

Daya tarik utama Niu Lai justru muncul dari hal yang pada awalnya menjadi bahan ejekan penonton.

Film ini menampilkan karakter animasi 3D dengan visual yang dianggap sangat sederhana. Sejumlah penonton bahkan menggambarkan tampilannya sebagai “jelek” dan “menyeramkan”.

Alih-alih membuat film tersebut tenggelam, kritik tersebut berubah menjadi bahan lelucon di internet.

Di Douban, salah satu platform ulasan film populer di China, bermunculan komentar bernada satir. Ada yang menyebutnya sebagai “simbol budaya troll internet baru”, sementara lainnya merekomendasikan film tersebut secara ironis.

Fenomena itu membuat Niu Lai berkembang menjadi semacam tontonan meme. Sebagian anak muda datang ke bioskop bukan semata-mata karena tertarik pada ceritanya, tetapi karena penasaran dengan film yang sedang ramai diperbincangkan.

Du Mingxi, mahasiswi berusia 19 tahun di Shanghai, mengaku awalnya merekomendasikan film tersebut kepada teman-temannya sebagai bentuk lelucon.

Ia kemudian berhasil mengajak dua temannya untuk menonton. Keduanya menilai film itu menghibur, meski salah satunya bahkan sempat tertidur saat pemutaran.

Menurut Du, fenomena tersebut mirip dengan tren internet lain ketika sesuatu dianggap aneh atau lucu justru karena sulit dijelaskan alasan kelucuannya.

Fakta dan Kronologi Lengkap :

  • 5 Agustus: Niu Lai mulai tayang di bioskop China.
  • 10 hari pertama: Film hanya menghasilkan sekitar 10.000 yuan. Pada beberapa hari, pendapatannya dilaporkan hanya sekitar 200 yuan.
  • Setelah viral di internet: Komentar sarkastik, meme, dan rekomendasi bernada lelucon mulai menarik perhatian lebih banyak penonton.
  • Senin: Pendapatan harian melonjak hingga 8,2 juta yuan dengan hampir 300.000 penonton.
  • Total box office: Pendapatan film mencapai 17,1 juta yuan atau sekitar US$2,5 juta.

Menurut laporan Red Star News yang dikutip dalam sumber, film tersebut dibuat selama lebih dari lima tahun oleh sutradara Xin Yumeng dan ibunya, Sun Lifan. Namun, Associated Press menyatakan tidak dapat menghubungi Xin dan belum memverifikasi informasi tersebut secara independen.

Poster film yang terlihat di sejumlah bioskop juga ikut memperkuat citra uniknya. Poster itu menampilkan gambar anak sapi yang dibuat dengan pena tanpa warna, lengkap dengan slogan tulisan tangan seperti ajakan datang bagi penonton yang menyukai sesuatu yang aneh.

Judul Niu Lai secara harfiah dapat dimaknai sebagai “banteng akan datang”. Makna tersebut kemudian dipakai penonton untuk membuat lelucon mengenai pasar saham China.

Salah satu komentar populer bahkan menyebut film itu sebagai tontonan wajib bagi investor pasar saham China. Lelucon tersebut menjadi bagian dari bagaimana film berkembang sebagai fenomena internet, bukan hanya sebagai karya animasi.

Tidak semua penonton melihat kesederhanaan visual Niu Lai sebagai kekurangan.

Zhong Jiaming, seorang guru sekolah kejuruan di Guangzhou, justru menilai film tersebut memiliki daya tarik karena berbeda dari produksi yang sangat dipoles secara visual tetapi belum tentu memiliki cerita yang kuat.

Menurutnya, film ini terasa sederhana dan jujur, dengan nuansa seperti dongeng pengantar tidur untuk anak-anak.

Cerita Niu Lai sendiri berpusat pada seekor anak sapi yang bermimpi mengenai dirinya ketika dewasa dan mendapat dukungan dari keluarganya.

Lonjakan box office Niu Lai menunjukkan bagaimana percakapan di internet dapat mengubah nasib sebuah film dalam waktu relatif singkat.

Film yang awalnya nyaris tidak diperhatikan justru mendapatkan penonton setelah menjadi bahan meme dan lelucon. Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa viralitas tidak selalu lahir dari pujian—ejekan dan rasa penasaran pun dapat menjadi mesin promosi yang kuat.