InternasionalPeduliPeristiwa

Kehancuran Gaza Terlihat dari Satelit, Rafah hingga Jabaliya Berubah Jadi Reruntuhan

30
×

Kehancuran Gaza Terlihat dari Satelit, Rafah hingga Jabaliya Berubah Jadi Reruntuhan

Share this article
Kehancuran Gaza Terlihat dari Satelit, Rafah hingga Jabaliya Berubah Jadi Reruntuhan, foto:( Planet Labs PBC)

Seketika.com, Internasional – Kehancuran Gaza kini tidak hanya terlihat dari kerusakan akibat serangan udara dan pertempuran, tetapi juga dari perubahan fisik kota-kota yang sebelumnya menjadi tempat tinggal padat bagi warga Palestina.

Citra satelit yang dianalisis dari Planet Labs PBC memperlihatkan sebagian besar Rafah telah berubah menjadi area penuh puing. Penghancuran sejumlah bangunan bahkan dilaporkan masih berlangsung setelah kesepakatan gencatan senjata.

Rafah sebelumnya dihuni sekitar 250.000 orang. Kini, sebagian besar kawasan kota tersebut telah kehilangan bentuk permukimannya.

Perubahan serupa terlihat di sejumlah wilayah lain, termasuk Beni Suhaila, Jabaliya, Beit Hanoun dan Shijaiya.

Kerusakan fisik menjadi salah satu dampak paling besar dari perang yang berlangsung sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

Sekitar 2 juta warga Palestina tinggal di Gaza sebelum perang. Lebih dari satu dari setiap 10 orang dari populasi tersebut dilaporkan telah tewas atau terluka akibat tembakan Israel.

Hampir seluruh penduduk Gaza juga kehilangan tempat tinggal atau harus meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran dan perintah evakuasi.

Banyak warga akhirnya hidup di tenda yang tersebar di kawasan pesisir, bekas lahan pertanian, serta lahan kosong.

Masalahnya tidak berhenti pada kehilangan rumah. Akses terhadap material bangunan yang dibutuhkan untuk membangun kembali tempat tinggal juga sangat terbatas karena Israel melarang sebagian besar bahan konstruksi masuk ke Gaza.

Dampak perang juga terlihat dari pengalaman Najwa Abu Eita.

Pada September 2024, rumahnya di kamp pengungsi Nuseirat diserang pasukan Israel. Putrinya yang berusia 7 tahun meninggal, sementara tiga anaknya yang lain terluka.

Abu Eita sendiri kehilangan satu mata dan mengalami kerusakan parah pada wajah serta gangguan pernapasan.

Sebelum perang, ia bekerja sebagai penata rambut. Kini ia menganggur dan tinggal di tenda dekat sisa-sisa rumahnya.

Kondisi fisiknya bahkan membuat anak-anaknya takut menatap wajahnya.

Citra satelit Planet Labs PBC memberikan gambaran mengenai perubahan sejumlah wilayah Gaza.

Di kawasan yang dikuasai Israel, sebagian besar bangunan terlihat telah dihancurkan menggunakan buldoser atau bahan peledak. Sebagian puing juga tampak telah dibersihkan.

Militer Israel menyatakan penghancuran dilakukan untuk mencegah bangunan digunakan oleh Hamas atau untuk menghancurkan jaringan terowongan kelompok tersebut.

Namun, seorang pakar yang ditunjuk PBB menyebut skala kerusakan perumahan dan infrastruktur sipil di Gaza sangat luar biasa.

Dalam laporan Februari, kehancuran tersebut disebut belum pernah terjadi sebelumnya bahkan jika dibandingkan dengan skala kerusakan dalam peperangan modern sejak abad ke-20.

Laporan itu juga memperingatkan bahwa kondisi tersebut dapat memiliki implikasi serius berdasarkan hukum internasional, termasuk kemungkinan dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan atau tindakan yang memenuhi unsur genosida.

Israel menolak tuduhan tersebut dan menyatakan operasi militernya ditujukan kepada Hamas serta infrastruktur kelompok tersebut yang berada di tengah kawasan sipil.

Selain melihat kehancuran permukiman, citra satelit juga menunjukkan perubahan fungsi sejumlah wilayah.

Sedikitnya 50 pos militer Israel terlihat tersebar di wilayah Gaza yang berada di bawah kendali Israel. Setidaknya 18 pos disebut dibangun setelah gencatan senjata dimulai.

Beberapa pos berada di kawasan bekas permukiman. Di sekitar lokasi tersebut, puing bangunan yang sebelumnya berdiri telah dibersihkan.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa perubahan lanskap Gaza bukan semata akibat kerusakan perang, tetapi juga berkaitan dengan keberadaan militer Israel di sejumlah wilayah.

Rafah hingga Beni Suhaila berubah drastis, Rafah menjadi salah satu contoh paling mencolok.

Sebagian besar kota telah hancur sebelum gencatan senjata. Namun, citra terbaru menunjukkan sejumlah bangunan yang masih tersisa kemudian ikut dihancurkan.

Beberapa fasilitas PBB yang ditinggalkan masih terlihat berdiri. Lapangan olahraga kota juga disebut telah berubah fungsi dan kini tampak menjadi bagian dari pangkalan militer.

Di Beni Suhaila, sebuah pangkalan baru berdiri di lokasi yang sebelumnya merupakan persimpangan utama.

Kawasan kota yang selama sekitar setahun mengalami penghancuran kini digambarkan sebagai lahan terbuka yang dipotong jaringan jalan tanah.

Jabaliya di Gaza utara juga mengalami kerusakan besar.

Kompleks Rumah Sakit Al-Awda dilaporkan mengalami kehancuran luas dalam beberapa bulan terakhir. Sejumlah sekolah yang dikelola PBB juga ikut menjadi reruntuhan.

Sebelum perang, Jabaliya merupakan lokasi kamp pengungsi terbesar di Gaza, dengan sekitar 120.000 pengungsi dan puluhan ribu penduduk lain di kawasan perkotaan yang padat.

Salah satu bangunan yang masih berdiri adalah Rumah Sakit Indonesia yang berbentuk segi delapan. Rumah sakit tersebut telah kosong sejak pasukan Israel menutupnya pada Juni 2025.

Sebuah pangkalan militer baru juga terlihat berada di dekat rumah sakit tersebut.

Kondisi serupa terjadi di Beit Hanoun. Kota yang sebelumnya dihuni sekitar 70.000 orang kini sebagian besar berubah menjadi deretan bangunan yang hancur.

Shijaiya, salah satu kawasan tua di Kota Gaza yang memiliki sejarah sekitar delapan abad, juga mengalami kehancuran besar. Rumah dan menara apartemen di kawasan tersebut kini banyak yang tinggal berupa reruntuhan.

Gencatan senjata telah mengurangi intensitas serangan dan pemboman terbesar, tetapi belum mengakhiri seluruh kekerasan di Gaza.

Serangan terhadap tenda, kendaraan dan bangunan masih dilaporkan terjadi hampir setiap hari. Israel mengatakan sejumlah serangan tersebut menargetkan anggota Hamas, sementara serangan juga dilaporkan menewaskan perempuan, anak-anak dan anggota keluarga lainnya.

Di sisi lain, pembangunan kembali Gaza menghadapi hambatan besar.

Rencana rekonstruksi skala besar belum berjalan karena Israel dan Hamas masih belum mencapai kesepakatan mengenai pelucutan senjata Hamas.

Selama proses politik dan keamanan belum menemukan jalan keluar, warga Gaza masih menghadapi persoalan mendasar: tempat tinggal yang hancur, infrastruktur yang rusak dan ruang hidup yang semakin terbatas.