Seketika.com, Internasional – Pemerintah Arab Saudi mulai menyelidiki bagaimana sejumlah rudal dan drone yang diluncurkan kelompok Houthi dapat menembus pertahanan udara negara tersebut. Perhatian utama penyelidikan tertuju pada serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh.
Dua pejabat regional yang dikutip dalam laporan sumber menyebutkan bahwa penyelidikan awal mengarah pada dugaan penggunaan drone sebagai pembuka serangan sebelum rudal jelajah dan rudal balistik diluncurkan menuju bandara.
Serangan ini menjadi perhatian karena memperlihatkan tantangan yang dihadapi sistem pertahanan udara Saudi dalam menghadapi ancaman udara yang datang secara berlapis.
Bandara Internasional King Khalid menjadi salah satu sasaran dalam rangkaian serangan yang dikaitkan dengan Houthi. Menurut laporan sumber, sedikitnya 13 orang meninggal dunia dan lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka dalam serangan tersebut.
Salah satu korban meninggal adalah Mahmoud Al-Barqawi, warga Yordania berusia 33 tahun yang bekerja di sebuah kafe di Riyadh. Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak.
Pemakamannya berlangsung di Amman, Yordania, pada Senin. Keluarga korban mengungkapkan kesedihan mendalam atas kehilangan tersebut, sementara empat warga Yordania lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Insiden ini juga berdampak pada aktivitas di ibu kota Saudi. Bandara Riyadh dilaporkan masih ditutup pada Senin, sedangkan pekerja di kawasan keuangan ibu kota diminta bekerja dari rumah.
Penyelidikan Saudi tidak hanya berfokus pada alasan rudal dan drone berhasil mencapai sasaran, tetapi juga pada kemungkinan kegagalan sistem peringatan dini.
Dua pejabat regional yang mengetahui penyelidikan tersebut mengatakan bahwa salah satu hal yang diperiksa adalah mengapa sistem pertahanan tidak memberikan peringatan lebih awal.
Menurut temuan awal yang disampaikan pejabat tersebut, Houthi diduga meluncurkan beberapa drone terlebih dahulu. Setelah itu, kelompok tersebut mengirimkan kombinasi rudal jelajah dan rudal balistik menuju Bandara Internasional King Khalid.
Taktik tersebut diduga menyulitkan upaya pencegatan karena sistem pertahanan harus menghadapi sejumlah ancaman udara dengan karakteristik berbeda.
Houthi juga diketahui memiliki rudal balistik dan sistem persenjataan yang dapat mengubah arah selama penerbangan. Kemampuan tersebut menjadi tantangan bagi sistem pencegat, termasuk Patriot, yang digunakan Arab Saudi.
Meski demikian, hasil akhir penyelidikan belum disampaikan secara lengkap. Karena itu, dugaan mengenai penyebab kegagalan pertahanan udara belum dapat dianggap sebagai kesimpulan resmi.
Serangan di bandara bukan satu-satunya insiden yang meningkatkan ketegangan di Arab Saudi. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik yang ditembakkan ke arah Riyadh pada Senin.
Sedikitnya tiga ledakan terdengar di kota tersebut pada Senin malam. Setelahnya, otoritas pertahanan sipil menyatakan bahwa bahaya telah berlalu.
Houthi kemudian mengklaim telah menargetkan Bandara King Khalid. Kelompok itu juga memperingatkan maskapai penerbangan internasional bahwa bandara-bandara Saudi, kecuali yang berada di Makkah dan Madinah, tidak aman.
Peringatan tersebut berpotensi menimbulkan kekhawatiran bagi industri penerbangan, penumpang internasional, dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada konektivitas udara.
Di sisi lain, Menteri Energi Saudi Pangeran Abdul Aziz bin Salman menegaskan bahwa perkembangan keamanan beberapa pekan terakhir merupakan persoalan serius yang membutuhkan respons setimpal.
Pemerintah Arab Saudi menginginkan keterlibatan Amerika Serikat yang lebih besar dalam menghadapi serangan Houthi. Sejauh ini, menurut laporan sumber, Washington telah membantu melalui intelijen, identifikasi sasaran, dan perencanaan operasi militer yang dipimpin Saudi.
Namun, Amerika Serikat belum terlibat langsung dalam serangan terhadap kelompok Houthi dalam konteks yang dijelaskan laporan tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Sabtu bahwa dirinya sedang mempertimbangkan kemungkinan melancarkan serangan terhadap Houthi. Pada Senin, ia mengonfirmasi telah berbicara dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, tetapi tidak menjelaskan hasil pembicaraan itu.
Ketika ditanya apakah Washington akan membela Arab Saudi setelah serangan tersebut, Trump mengatakan bahwa jawabannya akan segera diketahui.
Pernyataan itu belum merupakan pengumuman resmi mengenai operasi militer baru. Namun, kemungkinan keterlibatan langsung AS dapat memperluas konflik yang telah melibatkan berbagai aktor di kawasan Timur Tengah.
Keterlibatan militer Amerika Serikat membawa risiko tersendiri. Houthi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap jalur pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, yang berada di dekat pesisir Yaman dan menjadi jalur penting bagi perdagangan internasional.
Koalisi pimpinan Saudi sebelumnya berupaya merebut kembali wilayah strategis di sekitar jalur tersebut dari kelompok yang menguasai sejumlah titik penting.
Pada saat bersamaan, upaya Iran menutup Selat Hormuz dilaporkan telah memperumit arus energi dari kawasan Teluk Persia. Kedua jalur laut itu memiliki peran penting dalam perdagangan minyak dan barang secara global.
Jika gangguan keamanan meluas ke kedua jalur tersebut, dampaknya dapat merembet ke biaya pengiriman, harga energi, dan stabilitas pasar internasional.
Ketegangan juga berdampak pada wilayah Yaman. Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi melaporkan bahwa serangan udara di kompleks pemerintahan dan sebuah rumah di Provinsi Al-Jawf menewaskan sembilan orang, termasuk lima anak dan seorang perempuan. Tujuh orang lainnya dilaporkan terluka.
Pejabat Houthi juga menyatakan bahwa serangan baru Saudi di Sanaa menewaskan satu orang dan melukai 12 orang.
Juru bicara kementerian tersebut, Anees al-Asbahi, mengatakan bahwa serangan koalisi pimpinan Saudi sejak 3 September telah menewaskan 107 warga Yaman dan melukai 278 lainnya. Ia menyebut lebih dari 60 persen korban merupakan perempuan dan anak-anak.
Angka-angka tersebut merupakan klaim pihak Houthi dan belum dapat dianggap sebagai hasil verifikasi independen berdasarkan informasi yang tersedia dalam laporan sumber.
Sementara itu, seorang penasihat diplomatik Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, menyerukan tindakan bersama negara-negara Teluk untuk menghadapi ancaman Iran dan kelompok-kelompok yang bersekutu dengannya.
Ia menekankan bahwa keamanan negara-negara Arab di kawasan Teluk saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Iran sendiri menyatakan keprihatinan atas perkembangan konflik tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan negaranya bersedia membantu memfasilitasi pembicaraan antara pihak-pihak yang berkonflik.
Risiko terbesar dari eskalasi konflik ini tidak terbatas pada keamanan Arab Saudi. Gangguan terhadap jalur pelayaran di Bab el-Mandeb maupun Selat Hormuz dapat menambah tekanan terhadap perdagangan energi internasional.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia. Sementara itu, Bab el-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi bagian penting dari jaringan pelayaran antara Asia, Eropa, dan kawasan sekitarnya.
Jika ancaman terhadap kapal dagang meningkat, perusahaan pelayaran dapat menghadapi biaya asuransi dan operasional yang lebih tinggi. Perubahan rute juga berpotensi menambah waktu perjalanan dan biaya logistik.
Meski demikian, besarnya dampak terhadap harga minyak akan bergantung pada perkembangan keamanan, respons negara-negara terkait, serta apakah gangguan terhadap jalur pelayaran benar-benar terjadi dan berlangsung dalam jangka panjang.
Perhatian kini tertuju pada hasil penyelidikan pertahanan udara Arab Saudi dan keputusan pemerintahan Trump mengenai kemungkinan respons militer terhadap Houthi.
Saudi perlu mengidentifikasi apakah celah pertahanan muncul akibat keterbatasan deteksi, karakteristik persenjataan lawan, koordinasi sistem pertahanan, atau kombinasi beberapa faktor. Jawaban tersebut penting untuk menentukan langkah pengamanan berikutnya.
Di tingkat regional, seruan Uni Emirat Arab untuk membangun respons bersama menunjukkan adanya kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas melampaui pertempuran antara Saudi dan Houthi.
Bagi pasar energi, perkembangan di sekitar Bab el-Mandeb dan Selat Hormuz akan menjadi faktor penting yang perlu dipantau.












