Secara statistik, Inter mendominasi. Mereka mencatatkan 552 operan berbanding 192 milik lawan. Namun dominasi tanpa efektivitas menjadi bumerang.
Pelatih Cristian Chivu mengakui timnya kurang klinis.
“Jika Anda tidak klinis dan waspada di depan gawang, lawan akan menghukum Anda. Mereka sudah membuktikannya melawan kami dua kali,” kata Chivu.
Inter juga gagal lolos otomatis ke 16 besar usai hanya finis posisi ke-10 di fase liga satu poin di bawah zona aman. Kekalahan di babak play-off menjadi konsekuensi pahit dari inkonsistensi tersebut.
Hasil ini menjadi kemunduran besar. Hanya sembilan bulan lalu, Inter mencapai final Liga Champions sebelum dihancurkan Paris Saint-Germain 0-5.
Musim lalu mereka juga kalah dari AC Milan di semifinal Coppa Italia dan finis runner-up Serie A di bawah Napoli.
Pergantian pelatih dari Simone Inzaghi ke Cristian Chivu belum memberikan dampak signifikan di Eropa. Meski saat ini Inter memimpin klasemen Serie A dengan keunggulan 10 poin, performa mereka di Liga Champions justru menurun drastis.












