Call Us banner
InternasionalPeristiwa

Kepala Sekolah Ini Evakuasi 900 Siswa Sebelum Sekolah Hancur Diterjang Banjir Nepal

67
×

Kepala Sekolah Ini Evakuasi 900 Siswa Sebelum Sekolah Hancur Diterjang Banjir Nepal

Share this article
Kepala Sekolah Ini Evakuasi 900 Siswa Sebelum Sekolah Hancur Diterjang Banjir Nepal, foto:(ap)

Seketika.com, Internasional – Banjir bandang dahsyat melanda wilayah Lembah Trishuli, Nepal, dan menghancurkan sebuah sekolah setelah sekitar 900 siswa berhasil dievakuasi. Keputusan cepat Kepala Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli, Rajendra Dawadi, membuat ratusan siswa meninggalkan lokasi sebelum bangunan sekolah tersapu air, lumpur, batu, dan puing.

Rajendra Dawadi sedang berada di sekolah ketika kabar mengenai banjir yang menerjang Lembah Trishuli mulai berdatangan. Informasi tersebut belum sepenuhnya terkonfirmasi, tetapi kondisi di lapangan membuatnya memilih tidak mengambil risiko.

Dawadi kemudian membunyikan bel sekolah dan meminta seluruh siswa serta staf meninggalkan gedung. Mereka diarahkan menuju wilayah yang lebih tinggi di dekat sekolah.

Keputusan itu terbukti sangat menentukan. Tidak lama setelah para siswa dievakuasi, banjir menerjang dan menghancurkan sekolah yang selama ini menjadi tempat Dawadi belajar sekaligus bekerja.

Sedikitnya 900 siswa berada di area sekolah saat evakuasi dilakukan. Dua anggota staf dilaporkan tidak berhasil menyelamatkan diri dan masih hilang.

Bencana tersebut tidak hanya menghancurkan satu sekolah. Banjir di wilayah utara Nepal menyebabkan sejumlah fasilitas pendidikan rusak dan membuat ribuan anak terancam kehilangan tempat belajar.

Save the Children menyebut sedikitnya 69 sekolah di Nepal utara hancur. Kondisi itu berdampak terhadap hampir 19.000 siswa yang pendidikannya terancam terganggu selama berbulan-bulan.

Sekolah Menengah Tribhuvan Trishuli sendiri memiliki 1.643 siswa. Pada pagi ketika bencana terjadi, sekitar 900 siswa sudah berada di lingkungan sekolah, sementara sebagian lainnya masih dalam perjalanan.

Dawadi juga meminta sopir bus sekolah untuk membatalkan perjalanan menuju sekolah. Salah satu bus yang sudah tiba bahkan diperintahkan untuk berbalik arah.

Keputusan tersebut menjadi sangat penting karena bus sempat melewati sebuah jembatan baru. Tidak lama kemudian, jembatan lama yang berada di sebelahnya runtuh.

Dawadi menerima informasi mengenai banjir dari sejumlah sumber. Seorang guru mendapat peringatan melalui telepon, sementara seorang rekan lainnya datang membawa kabar bahwa banjir telah menerjang kawasan Lembah Trishuli.

Seorang orang tua juga datang ke sekolah untuk menjemput anaknya. Meski ancaman belum sepenuhnya terkonfirmasi, Dawadi memilih segera bertindak.

Setelah bel sekolah dibunyikan, siswa dan staf diperintahkan keluar dari gedung. Mereka bergerak menuju bukit terdekat untuk menjauhi aliran banjir.

Saat mengikuti para siswa, Dawadi melihat air terus meninggi di belakang mereka. Dari lokasi yang lebih aman, ia menyaksikan sekolah yang pernah menjadi tempatnya menuntut ilmu akhirnya dihantam banjir.

Bangunan sekolah tidak mampu bertahan menghadapi derasnya aliran air yang membawa lumpur, batu, dan berbagai puing.

Kehancuran tersebut terasa sangat personal bagi Dawadi. Sekolah itu bukan sekadar tempatnya bekerja karena ia juga pernah menjadi siswa di sana.

Ketika Dawadi kembali ke lokasi beberapa hari kemudian, sejumlah orang tua menyambutnya dengan pelukan dan tangisan. Mereka menganggap keputusan cepat sang kepala sekolah telah menyelamatkan anak-anak mereka.

Salah seorang siswa, Suvina Tamang, 14 tahun, juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Dawadi karena telah menyelamatkan hidupnya.

Dawadi tidak menganggap dirinya sebagai pahlawan. Menurutnya, menyelamatkan siswa merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai kepala sekolah.

Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan para siswa dapat kembali belajar. Dawadi mengatakan anak-anak juga membutuhkan dukungan dan konseling psikologis setelah mengalami bencana.

Sekolah kemungkinan harus dipindahkan sementara sebelum fasilitas pendidikan dapat dibangun kembali. Harapannya kepada pemerintah Nepal adalah agar sekolah-sekolah yang hancur segera dipulihkan dan para siswa bisa kembali ke ruang kelas.