Call Us banner
PeristiwaReligitokoh

Gus Kikin Ketua Umum PBNU 2026-2031, Ini Profil dan Perjalanan Hidupnya

42
×

Gus Kikin Ketua Umum PBNU 2026-2031, Ini Profil dan Perjalanan Hidupnya

Share this article
Gus Kikin Ketua Umum PBNU 2026-2031, Ini Profil dan Perjalanan Hidupnya, foto:(ig/gus.kikin)

Seketika.com, Jakarta – KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu mendapat amanah tersebut dalam Muktamar Ke-35 NU di Jombang pada Senin, 31 Agustus 2026.

Gus Kikin bukan sosok baru di lingkungan NU. Selain memiliki garis keturunan dari KH Hasyim Asy’ari, ia mempunyai pengalaman sebagai pelaut, pengusaha, pengasuh pesantren, hingga pimpinan NU Jawa Timur.

Gus Kikin resmi dipercaya memimpin PBNU untuk masa khidmah 2026–2031 setelah namanya ditetapkan dalam Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas, Jombang.

Penetapan tersebut berlangsung pada Senin pagi, 31 Agustus 2026, di Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said. Dalam proses pemilihan, Gus Kikin mendapat dukungan dari sembilan kiai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Usai terpilih, Gus Kikin menyampaikan rasa syukurnya atas pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU yang berlangsung lancar. Ia juga menyinggung kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam penutupan muktamar.

Gus Kikin dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Ia meneruskan kepemimpinan pesantren yang sebelumnya diasuh KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Sebelum terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin juga aktif dalam struktur organisasi NU. Ia pernah menjadi salah satu Ketua PBNU yang membidangi ekonomi dan kemudian dipercaya memimpin PWNU Jawa Timur.

Pengalaman tersebut membuat perjalanan Gus Kikin tidak hanya berakar pada tradisi pesantren, tetapi juga mencakup organisasi, bisnis, pelayaran, dan pengelolaan lembaga.

Gus Kikin lahir pada 17 Agustus 1959 di Jombang, Jawa Timur. Ia merupakan putra KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma’shum.

Dari garis ibu, Gus Kikin memiliki hubungan keluarga dengan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Neneknya, Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, merupakan putri sulung KH Hasyim Asy’ari.

Nyai Khoiriyah Hasyim menikah dengan KH Ma’shum Ali, ulama yang dikenal sebagai ahli ilmu falak. Dari jalur tersebut, Gus Kikin tercatat sebagai cicit KH Hasyim Asy’ari.

Sementara dari garis ayah, keluarganya memiliki hubungan dengan KH Anwar bin Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang.

Masa pendidikan Gus Kikin berlangsung di lingkungan Jombang dan pesantren. Ia mengenyam pendidikan agama di Pesantren Seblak dan pendidikan formal di Jombang.

Setelah pendidikan menengah, Gus Kikin memilih jalur yang cukup berbeda dari latar belakang keluarganya sebagai keluarga pesantren. Ia masuk Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta pada 1975–1979.

Pilihan tersebut membawanya memasuki dunia pelayaran. Ia bahkan menjalani praktik pelayaran dan memiliki pengalaman mengelilingi dunia sebanyak empat kali.

Pada 2013, Gus Kikin kembali menempuh pendidikan formal dengan mengambil jurusan Komunikasi di Universitas Terbuka. Pendidikan ini disebut berkaitan dengan pengembangan usaha media yang dirintisnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di bidang pelayaran, Gus Kikin berkarier di PT Djakarta Lloyd. Kariernya berkembang hingga ia dipercaya menjadi Kepala Cabang Djakarta Lloyd di Cilegon pada usia 30 tahun.

Ia kemudian meninggalkan perusahaan tersebut dan mengembangkan usaha di bidang shipping serta logistik.

Perjalanan bisnisnya berkembang ke berbagai sektor. Catatan dalam sumber menyebut usaha yang dikelolanya mencakup transportasi, kontraktor, teknologi informasi, komoditas, energi, hingga media penyiaran.

Gus Kikin juga mendirikan PT Energi Mineral Langgeng (EML), perusahaan yang bergerak dalam eksplorasi minyak dan gas bumi. Pengalaman tersebut turut membawanya aktif dalam lingkungan Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

Perjalanan Gus Kikin kemudian kembali ke lingkungan pesantren. Pada Januari 2016, ia diminta Gus Sholah menjadi Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan regenerasi kepemimpinan di pesantren. Setelah Gus Sholah wafat pada 2020, Gus Kikin kemudian dipercaya menjadi Pengasuh ke-8 Pesantren Tebuireng.

Dalam menjalankan amanah tersebut, Gus Kikin berkomitmen menjaga sekaligus mengembangkan warisan pemikiran KH Hasyim Asy’ari. Salah satu perhatian utamanya adalah pemahaman dan pengamalan karya-karya pendiri NU, termasuk Qanun Asasi.

Kiprah Gus Kikin dalam organisasi NU semakin menonjol setelah ia menerima sejumlah amanah struktural.

Pada Muktamar NU 2022, ia dipercaya menjadi salah satu Ketua PBNU dengan bidang ekonomi. Setelah itu, ia mendapat amanah memimpin PWNU Jawa Timur.

Gus Kikin kemudian terpilih sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024–2029. Pengalaman di tingkat wilayah tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan organisasinya sebelum dipercaya memimpin PBNU.

Kini, setelah Muktamar Ke-35 NU, Gus Kikin mengemban posisi tertinggi dalam struktur PBNU untuk periode 2026–2031.

Sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031, Gus Kikin akan menghadapi tantangan untuk mengelola organisasi dengan basis warga yang besar sekaligus menjaga kesinambungan tradisi pesantren dan agenda kemandirian ekonomi Nahdliyin.

Latar belakangnya yang mencakup pesantren, organisasi NU, pelayaran, dan dunia usaha menjadi modal pengalaman yang akan mewarnai kepemimpinannya di PBNU.