Seketika.com, Bola – Arsenal mengalami hasil mengecewakan setelah disingkirkan Fleetwood Town pada babak 16 besar Piala Liga Inggris. Pertandingan yang berlangsung di Stadion Highbury, markas Fleetwood, berakhir dengan skor 1-1 selama waktu normal sebelum tuan rumah memastikan kemenangan melalui adu penalti 5-3.
Hasil tersebut menjadi kejutan karena Fleetwood berkompetisi di League Two, kasta keempat dalam piramida sepak bola Inggris. Sementara itu, Arsenal datang sebagai juara Premier League dengan sejumlah pemain berpengalaman dalam susunan timnya.
Kiper Fleetwood, Jay Lynch, menjadi salah satu sosok penting dalam keberhasilan timnya. Ia menggagalkan tendangan Bruno Guimaraes, yang menjadi satu-satunya kegagalan eksekusi dalam babak adu penalti tersebut.
Keberhasilan menyingkirkan Arsenal menjadi pencapaian istimewa bagi Fleetwood. Menurut keterangan manajer Matt Lawlor, pertandingan tersebut merupakan momen terbesar dalam sejarah klub jika dilihat dari lawan yang datang ke kota mereka.
Fleetwood juga disebut belum pernah mencapai tahap kompetisi tersebut sebelumnya. Status mereka sebagai salah satu tim dengan peringkat terendah yang tersisa dalam undian membuat kemenangan ini semakin menarik perhatian.
Para pendukung tuan rumah merayakan keberhasilan tersebut dengan turun ke lapangan setelah Conor Haughey mencetak penalti penentu kemenangan.
Bagi Arsenal, kekalahan ini menambah catatan pahit setelah sebelumnya kalah melalui adu penalti dari Paris Saint-Germain pada final Liga Champions, sebagaimana disebutkan dalam sumber.
Manajer Mikel Arteta mengakui hasil tersebut mengecewakan. Ia menegaskan bahwa timnya memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga nama klub, tetapi menilai ada sejumlah aspek permainan yang belum berjalan sesuai harapan.
Arsenal memang tidak menurunkan beberapa pemain utama, termasuk Declan Rice, Gabriel, dan David Raya. Namun, komposisi tim yang diturunkan tetap berisi sejumlah pemain berpengalaman.
Arsenal harus menyelesaikan pertandingan dengan 10 pemain setelah Max Dowman mendapat kartu merah pada menit ke-85. Pemain muda berusia 16 tahun tersebut diusir setelah menendang lawan yang sebelumnya menjatuhkannya melalui tekel keras.
Insiden itu menjadi salah satu momen penting menjelang berakhirnya waktu normal. Dowman juga tampak mendapat teguran dari Arteta ketika meninggalkan lapangan, berdasarkan laporan sumber.
Pertandingan sempat dihentikan selama sekitar delapan menit tidak lama setelah dimulai. Penyebabnya adalah sebuah drone yang terlihat melayang di atas stadion.
Wasit menghentikan permainan ketika Arsenal bersiap mengambil tendangan bebas pada menit kedua. Setelah berkomunikasi dengan petugas keamanan, kedua manajer, dan sejumlah pemain, pertandingan akhirnya dilanjutkan.
Fleetwood berhasil membuka keunggulan pada menit ke-21 melalui Aaron Loupalo-Bi, penyerang pinjaman dari Fulham. Gol tersebut membuat Arsenal berada dalam posisi tertinggal meskipun menghadapi tim dari divisi yang lebih rendah.
Arteta kemudian memasukkan kapten Martin Odegaard pada babak pertama untuk membantu timnya mengejar ketertinggalan.
Upaya Arsenal membuahkan hasil pada menit ke-50. Viktor Gyokeres mencetak gol penyama kedudukan sehingga skor berubah menjadi 1-1.
Namun, Arsenal kesulitan menciptakan banyak peluang berbahaya setelah gol tersebut. Tidak ada gol tambahan hingga waktu normal berakhir, sehingga pemenang harus ditentukan melalui adu penalti.
Dalam babak adu penalti, para eksekutor Fleetwood menjalankan tugas dengan sempurna. Sebaliknya, tendangan Bruno Guimaraes berhasil dihentikan Jay Lynch.
Conor Haughey kemudian mencetak penalti penentu yang memastikan kemenangan Fleetwood dengan skor 5-3. Hasil itu langsung disambut perayaan meriah oleh para pendukung tuan rumah.
Lynch mengungkapkan bahwa Fleetwood mendapat motivasi dari keberhasilan Grimsby Town, tim divisi keempat yang sebelumnya membuat kejutan dengan menyingkirkan Manchester United.
Menurut Lynch, pencapaian tersebut menjadi gambaran bahwa klub dari divisi lebih rendah tetap memiliki kesempatan untuk mengalahkan tim besar.
Fleetwood Town pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan karier Jamie Vardy, mantan penyerang tim nasional Inggris dan Leicester City.
Vardy memperkuat Fleetwood selama satu musim dan membantu klub tersebut promosi dari divisi kelima menuju Football League. Ia kemudian pindah ke Leicester pada 2012, sebelum namanya semakin dikenal di sepak bola Inggris.
Di luar lapangan, Fleetwood juga memiliki sejarah kontroversi terkait mantan pemiliknya, Andy Pilley. Sumber menyebut Pilley dijatuhi hukuman penjara 13 tahun atas kasus penipuan dan kalah dalam upaya banding pada Februari tahun yang dirujuk dalam laporan. Detail waktu tersebut perlu diverifikasi sebelum dipublikasikan.
Tersingkirnya Arsenal membuat perjalanan mereka di Piala Liga Inggris berakhir pada babak 16 besar, berdasarkan laporan sumber.
Bagi Fleetwood, kemenangan ini menjadi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan di kompetisi sekaligus menikmati sorotan atas keberhasilan menumbangkan lawan yang jauh lebih diunggulkan.
Hasil pertandingan ini juga menunjukkan bahwa perbedaan kasta tidak selalu menentukan hasil akhir sepak bola. Meski demikian, kemenangan Fleetwood ditentukan oleh kejadian konkret di lapangan: skor imbang, kegagalan penalti Arsenal, dan keberhasilan seluruh eksekutor tuan rumah.












