Meski demikian, penetrasi kendaraan listrik masih tergolong rendah.
Saat ini, EV baru menyumbang sedikit di atas 1 persen dari total penjualan mobil, akibat harga yang relatif tinggi, keterbatasan stasiun pengisian daya, serta tantangan iklim ekstrem di kawasan tersebut.
Pada musim panas 2025, BYD mengumumkan rencana melipatgandakan kehadirannya di Arab Saudi, tak lama setelah masuknya Tesla ke pasar tersebut.
BYD menargetkan penjualan 5.000 unit kendaraan listrik dan pembukaan 10 ruang pamer hingga akhir 2026.
“Kami melakukan banyak investasi di sana,” kata Li, seraya menegaskan bahwa BYD tengah membangun jaringan dealer yang kuat dan memperkenalkan teknologi kendaraan listrik mutakhir.
Lebih jauh, Li membayangkan Arab Saudi dan Timur Tengah secara luas sebagai “negeri impian” bagi inovasi, bahkan menyamakannya dengan Silicon Valley versi regional.
Li juga menyoroti ambisi besar pemerintah Arab Saudi dalam transformasi energi dan otomotif melalui Visi 2030.
“Jika mereka menetapkan target, mereka akan mewujudkannya. Dan untuk itu, mereka membutuhkan perusahaan teknologi seperti kami,” ujarnya.
(arabnews)












