Hukum dan KriminalKesehatanPolitik

Literasi Warga Binaan Jadi Sorotan Willy Aditya, Kesehatan di Lapas Diminta Lebih Preventif

57
×

Literasi Warga Binaan Jadi Sorotan Willy Aditya, Kesehatan di Lapas Diminta Lebih Preventif

Share this article
Literasi Warga Binaan Jadi Sorotan Willy Aditya, Kesehatan di Lapas Diminta Lebih Preventif, foto:(dpr)

Seketika.com, Bandung – Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya menilai literasi perlu ditempatkan sebagai jangkar utama dalam membangun kehidupan yang sehat dan produktif bagi warga binaan di lembaga pemasyarakatan (lapas). Menurutnya, edukasi mengenai kesehatan, kebersihan, pola hidup sehat, hingga relasi sosial penting dikedepankan sebagai langkah pencegahan.

“Jadi basisnya adalah sejauh apa kita menjadikan literasi sebagai jangkar utama dari relasi sosial hidup di dalam ruang yang bernama lapas ini,” kata Willy dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XIII DPR RI ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, Jumat petang (25/9/2026).

Willy menjelaskan, Komisi XIII tengah berupaya membangun regulasi pemasyarakatan yang saintifik dan berbasis data dengan melibatkan sejumlah pakar. Menurutnya, pendekatan berbasis pengetahuan diperlukan agar kebijakan yang disusun mampu menjawab persoalan nyata di lingkungan lapas.

“Kami sudah tiga kali mengundang pakar, melibatkan pakar, ingin membangun regulasi yang saintifik, berbasiskan data,” ujar Politisi Fraksi Partai NasDem ini.

Ia mengatakan, kehidupan warga binaan dengan intensitas interaksi yang tinggi membutuhkan pengaturan yang tepat, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan dasar dan aspek privat. Salah satu gagasan yang dibahas adalah penyediaan bilik keluarga sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan warga binaan.

“Maka kemudian salah satunya, bilik keluarga itu menjadi satu kebutuhan. Itu konsepnya bukan pemenjaraan kok, konsepnya adalah warga binaan di dalam lembaga pemasyarakatan,” jelas Legislator Dapil Jawa Timur XI itu.

Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan perubahan paradigma dari sistem pemenjaraan menuju pemasyarakatan. Lapas, kata Willy, semestinya menjadi ruang hidup dan ruang tumbuh yang membantu warga binaan kembali menjalani kehidupan secara normal di tengah masyarakat.

“Kita sudah mengandung konsep namanya pemasyarakatan, yang menjadi ruang hidup, ruang tumbuh yang kemudian memanusiakan secara normal kembali. Itu yang menjadi baseline,” tuturnya.

Dalam konteks kesehatan, Willy menekankan pentingnya mengedepankan langkah preventif. Ia menilai tenaga kesehatan di lapas tidak cukup hanya bertugas ketika warga binaan mengalami sakit, tetapi juga perlu aktif memberikan edukasi kesehatan.

“Saya melihat konteks utama saya tadi ajak dialog dokternya, yang penting adalah lebih baik mencegah daripada mengobati,” katanya.

Karena itu, Willy mendorong tenaga kesehatan untuk membuat konten-konten edukatif yang mudah dipahami warga binaan. Materinya dapat mencakup pola hidup sehat, kebersihan, olahraga, hingga pengetahuan mengenai berbagai penyakit.

“Maka di sanalah poin literasi. Lebih penting dokter bertugas bukan menyembuhkan orang atau mengobati orang, tapi dokternya proaktif dengan apa? Membuat konten-konten terkait dengan bagaimana kemudian hidup sehat, bagaimana ketika ada penyakit ini, bagaimana kemudian edukasi literasi tentang hal-hal yang sederhana,” paparnya.

Willy menambahkan, klinik tetap diperlukan sebagai fasilitas penanganan ketika warga binaan mengalami persoalan kesehatan. Namun, menurutnya, upaya membangun kebiasaan hidup sehat melalui edukasi dan literasi harus menjadi perhatian utama. “Jadi itu in case saja, klinik itu in case saja. Tapi kita hidup sehatnya yang lebih penting,” pungkas Willy.