Namun, atlet dan pelatih dari negara yang terdampak tetap mendapatkan pengecualian, sehingga secara aturan tim Iran masih diizinkan memasuki wilayah AS untuk mengikuti kompetisi.
Selain faktor keamanan di luar negeri, para pemain Iran juga menghadapi kemungkinan tekanan politik.
Banyak analis menilai para pemain bisa mendapat dukungan dari diaspora Iran yang menentang pemerintah di luar negeri, sementara keluarga mereka di dalam negeri berpotensi menghadapi tekanan.
Pada FIFA World Cup 2022 di Qatar, pemain Iran menolak menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan melawan Inggris. Aksi itu terjadi di tengah gelombang protes nasional setelah kematian Mahsa Amini pada 2022.
Meski muncul kekhawatiran politik, evaluasi internal FIFA sebelumnya menyebut rencana keamanan tuan rumah memiliki tingkat risiko rendah.
Tim inspeksi FIFA menyatakan Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko memiliki pengalaman luas dalam menyelenggarakan acara olahraga besar serta sistem keamanan yang mapan untuk stadion dan tamu penting.
Trump sendiri sebelumnya mengklaim berperan besar dalam memenangkan hak tuan rumah Piala Dunia 2026 ketika ketiga negara tersebut mengalahkan Maroko dalam pemungutan suara FIFA pada 2018.
Ketegangan politik juga pernah mendorong sejumlah atlet Iran untuk melanjutkan karier di luar negeri.
Salah satunya adalah Kimia Alizadeh, peraih medali perunggu taekwondo Olimpiade Rio 2016 yang kemudian berkompetisi untuk tim pengungsi Olimpiade di Tokyo 2021 dan mewakili Bulgaria di Olimpiade Paris 2024.
Kasus lain adalah judoka Saeid Mollaei yang meninggalkan Iran setelah berselisih dengan pejabat tim pada Kejuaraan Dunia 2019. Ia kemudian menjadi warga negara Mongolia dan meraih medali perak di Olimpiade Tokyo 2020.












