Sumatera Selatan sendiri tercatat sebagai provinsi kedua di Indonesia yang sukses membentuk Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) sejak tahun 2022.
Meski potensinya besar, Destry memaparkan sejumlah tantangan yang masih dihadapi, seperti kapasitas produksi, standardisasi, sertifikasi halal, akses pasar yang belum merata, serta terbatasnya pemahaman masyarakat.
“Kebijakan Bank Indonesia dalam pengembangan eksyar akan difokuskan pada penguatan ekosistem makanan halal, fesyen, keuangan komersial dan sosial syariah, hingga digitalisasi. Semoga sinergi ini berkontribusi nyata menuju ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” jelas Destry.
Di tempat yang sama, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Bambang Pramono, melaporkan bahwa FESyar Regional Sumatera 2026 berlangsung pada 5–7 Juni 2026.
Terdapat lima tujuan utama dalam gelaran tahun ini, antara lain penguatan ekosistem halal food dan modest fashion, peningkatan literasi eksyar, mendukung program 100.000 Sultan Muda dari ceruk ekonomi syariah, serta inisiasi replikasi model bisnis tiga Program Unggulan Sumatera Selatan ke tingkat regional Sumatera.
Pada upacara pembukaan tersebut, dilakukan juga penyerahan bukti komitmen pembentukan Ekosistem Syariah Inklusif dalam rangka pengembangan komoditas unggulan kelapa melalui optimalisasi dana wakaf (social financing).
Turut hadir dalam acara ini Ketua Dekranasda Sumsel, Hj. Feby Herman Deru, Para Kepala OPD Sumsel, serta para pelaku usaha syariah se-Sumatera.












