Call Us banner
InternasionalPeristiwa

Latihan Militer AS-Korea Selatan Dipersingkat, Korea Utara Siapkan Respons

29
×

Latihan Militer AS-Korea Selatan Dipersingkat, Korea Utara Siapkan Respons

Share this article
Latihan Militer AS-Korea Selatan Dipersingkat, Korea Utara Siapkan Respons, foto:(ap)

Seketika.com, Internasional – Latihan militer AS dan Korea Selatan dipersingkat atas permintaan Amerika Serikat, dengan latihan yang semula dijadwalkan berakhir 27 Agustus kini selesai pada Jumat. Keputusan ini muncul di tengah upaya Presiden Donald Trump membuka kembali peluang dialog dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, tetapi sekaligus memicu kekhawatiran soal kesiapan pertahanan kedua sekutu.

Militer Korea Selatan dan Amerika Serikat sepakat mengakhiri latihan gabungan lebih cepat dari jadwal semula. Latihan Ulchi Freedom Shield yang berlangsung sejak Senin kini akan selesai pada Jumat.

Selain memangkas durasi, kedua negara juga mengurangi skala sejumlah latihan lapangan gabungan. Langkah tersebut dilakukan setelah adanya permintaan dari pihak AS.

Keputusan ini dipandang berkaitan dengan keinginan Presiden Donald Trump untuk kembali membangun hubungan dengan Kim Jong Un. Trump sebelumnya menyebut hubungan baiknya dengan pemimpin Korea Utara sebagai salah satu alasan di balik kebijakannya terhadap latihan militer tersebut.

Pengurangan latihan militer menimbulkan kekhawatiran di kalangan sejumlah pakar keamanan. Latihan gabungan AS-Korea Selatan selama ini menjadi bagian penting untuk mempertahankan kesiapan militer menghadapi kemungkinan agresi Korea Utara.

Analis Asan Institute for Policy Studies, Yang Uk, menilai pengurangan atau penghentian latihan dapat berdampak pada kemampuan pasukan beradaptasi dengan prosedur operasi bersama.

Menurutnya, pergantian komandan militer secara berkala membuat latihan rutin menjadi penting. Jika latihan dihentikan terlalu lama, personel baru berpotensi kurang familiar dengan prosedur ketika latihan kembali digelar.

Latihan Ulchi Freedom Shield sendiri sebagian besar berupa latihan pos komando berbasis simulasi komputer. Tujuannya adalah menguji kemampuan AS dan Korea Selatan dalam menghadapi skenario serangan Korea Utara.

Kedua negara biasanya melengkapinya dengan berbagai latihan lapangan.

Latihan Ulchi Freedom Shield tahun ini awalnya dijadwalkan berlangsung hingga 27 Agustus. Namun, militer Korea Selatan kemudian mengumumkan bahwa rangkaian latihan akan berakhir pada Jumat.

Latihan tersebut dilaporkan terbagi dalam dua fase. Fase pertama berfokus pada operasi pertahanan menghadapi simulasi serangan Korea Utara, sedangkan fase berikutnya dirancang untuk melatih operasi serangan balasan.

Bagian kedua menjadi sensitif karena Korea Utara selama bertahun-tahun mengecam latihan militer AS-Korea Selatan sebagai persiapan invasi.

Beberapa hari sebelum latihan dimulai, Korea Utara juga meluncurkan dua rudal balistik ke laut.

Korea Utara belum memberikan respons terhadap tawaran dialog Trump. Namun, media pemerintah KCNA pada Rabu menerbitkan komentar yang mengecam latihan militer gabungan tersebut.

Pyongyang menilai latihan itu sebagai tindakan berbahaya dan menyatakan akan mengambil langkah untuk menghadapi ancaman keamanan yang dianggap berasal dari AS dan sekutunya.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa pengurangan skala latihan belum otomatis menghilangkan ketegangan di Semenanjung Korea.

Keputusan pengurangan latihan muncul ketika Trump kembali menunjukkan keinginan membangun komunikasi dengan Kim Jong Un.

Trump dan Kim sebelumnya telah bertemu tiga kali pada 2018-2019. Namun, proses diplomasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan karena perbedaan mengenai sanksi terhadap Korea Utara dan langkah denuklirisasi.

Kim kemudian menyatakan bahwa dialog dengan AS membutuhkan perubahan terhadap tuntutan Washington mengenai denuklirisasi Korea Utara.

Sejumlah pakar menilai Kim kemungkinan belum akan menerima tawaran Trump tanpa adanya konsesi yang lebih besar dari Amerika Serikat.

Pemerintahan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyambut kemungkinan membaiknya hubungan Trump dan Kim Jong Un.

Kantor kepresidenan Korea Selatan berharap hubungan personal keduanya dapat membuka ruang bagi dialog yang lebih berarti serta membantu mendorong perdamaian di Semenanjung Korea.

Namun, pendekatan tersebut mendapat kritik dari kelompok konservatif di Korea Selatan. Mereka menilai pemerintah terlalu mengutamakan kemungkinan kembalinya diplomasi Trump-Kim dibandingkan risiko keamanan akibat berkurangnya latihan gabungan.

AS dan Korea Selatan menyatakan akan terus membahas serta menjalankan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan latihan dan mempertahankan postur pertahanan gabungan.

Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada respons Korea Utara dan apakah pengurangan latihan militer benar-benar dapat membuka jalan bagi komunikasi baru antara Trump dan Kim Jong Un.

Pada saat yang sama, sekutu AS dan Korea Selatan harus menjaga keseimbangan antara upaya diplomasi dan kebutuhan mempertahankan kesiapan militer.