Seketika.com, Internasional – Perang AS Iran kembali memanas setelah lebih dari sebulan mengalami jeda. Serangan terbaru meluas ke kawasan Teluk, dengan drone Iran menghantam kompleks perumahan di Kuwait, sementara Bahrain mengklaim berhasil mencegat serangan dari Iran.
Konflik Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah periode jeda pertempuran selama lebih dari satu bulan. Serangkaian serangan terbaru terjadi di sejumlah titik Timur Tengah, termasuk Kuwait, Bahrain, Irak, Yordania, dan Lebanon.
Kuwait melaporkan sebuah kompleks perumahan di ibu kota mengalami kebakaran setelah terkena serangan drone Iran pada Rabu dini hari. Api berhasil dipadamkan dan pemerintah Kuwait menyatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Di Bahrain, sistem pertahanan udara disebut berhasil mencegat serangan dari Iran. Negara tersebut juga menuduh Teheran melakukan serangan yang membahayakan warga sipil.
Eskalasi ini terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran. Komando Pusat AS menyebut sasaran mereka antara lain sistem pertahanan udara, radar, dan aset maritim Iran.
Kembalinya pertempuran menambah tekanan terhadap stabilitas kawasan Teluk, yang memiliki posisi penting dalam jalur perdagangan energi dunia.
Salah satu titik paling sensitif adalah Selat Hormuz. Sebelum konflik terbaru, sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan secara global disebut melewati jalur strategis tersebut.
Gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di kawasan itu ikut mendorong kenaikan harga minyak. Harga minyak mentah Brent bahkan telah melewati US$95 per barel, atau meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan awal perang.
Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap perekonomian global karena biaya energi berkaitan erat dengan transportasi, industri, dan harga berbagai barang.
Konflik ini juga menjadi persoalan politik bagi pemerintahan Presiden AS Donald Trump menjelang pemilihan paruh waktu pada November.
Militer Amerika Serikat mengatakan operasi terbaru dilakukan sebagai respons terhadap upaya Iran menyerang kapal komersial dan pasukan AS di Timur Tengah.
Komando Pusat AS menyebut sejumlah target yang dihantam berada dalam kategori militer, termasuk sistem radar, pertahanan udara, serta aset maritim.
Trump kemudian mengatakan kepada Fox News bahwa pasukan Amerika juga menyerang sistem radar Iran yang sedang dibangun kembali.
Iran merespons dengan melancarkan serangan ke sejumlah sasaran di kawasan.
Rudal Iran diarahkan ke pangkalan Amerika di Yordania, tetapi menurut laporan yang tersedia seluruhnya berhasil dicegat. Iran juga mengirim drone menuju Kuwait yang turut berhasil diintersepsi.
Sebelumnya, Uni Emirat Arab menyatakan telah mencegat sebuah drone Iran yang masuk ke wilayah perairannya.
Serangan drone Iran menyebabkan kebakaran di sebuah kompleks perumahan di ibu kota Kuwait pada Rabu dini hari.
Pusat komunikasi pemerintah Kuwait menyatakan api telah berhasil dipadamkan. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian tersebut.
Bahrain, yang menjadi lokasi pangkalan penting Angkatan Laut AS, juga melaporkan adanya serangan dari Iran.
Militer Bahrain mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menghadang serangan yang masuk pada Rabu pagi. Pemerintah Bahrain menilai serangan tersebut mengancam warga sipil.
Di Irak, Direktorat Kontra-Terorisme Kurdistan melaporkan berhasil mencegat 10 drone yang membawa bahan peledak di sekitar Erbil.
Televisi Iran kemudian melaporkan bahwa pangkalan Amerika di Erbil menjadi sasaran serangan.
Militer Israel mengatakan Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, menembakkan dua drone bermuatan bahan peledak ke arah pasukannya di Lebanon selatan.
Menurut laporan tersebut, tidak ada korban jiwa akibat serangan itu.
Salah satu perkembangan paling tragis terjadi di Iran. Media Iran melaporkan sebuah rumah yang sedang digunakan untuk menggelar pesta pernikahan terkena serangan Amerika Serikat.
Pejabat Iran menyebut sedikitnya lima orang meninggal, termasuk seorang anak, sementara 68 orang lainnya mengalami luka-luka.
Ebrahim Azizi, ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, mengecam serangan tersebut dan menyatakan bahwa tindakan itu akan mendapat balasan.
Militer Amerika Serikat mengatakan mengetahui laporan tersebut, tetapi menegaskan bahwa pasukannya tidak menargetkan warga sipil.
Selat Hormuz kembali menjadi salah satu pusat perhatian dalam konflik AS-Iran. Jalur tersebut sangat penting bagi perdagangan energi internasional.
Iran disebut sebagian besar menutup akses melalui selat setelah Israel dan Amerika Serikat menyerang Iran pada 28 Februari. Meski Washington berulang kali menyatakan jalur tersebut tetap terbuka, hanya sedikit kapal yang dilaporkan melintas setiap hari.
Situasi itu membuat risiko gangguan pasokan energi semakin besar dan menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong harga minyak dunia naik.
Belum ada tanda bahwa eskalasi akan segera berakhir. Amerika Serikat dan Iran justru menunjukkan sikap yang semakin keras setelah jeda pertempuran sebelumnya.
Trump mengatakan dirinya tidak akan memaksa Iran untuk kembali ke meja perundingan. Ia juga memperingatkan bahwa serangan AS berikutnya dapat dilakukan dengan kekuatan yang lebih besar jika Iran membalas.
Di sisi lain, Iran telah menyatakan melalui pejabatnya bahwa serangan Amerika tidak akan dibiarkan tanpa respons.
Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada apakah kedua pihak memilih meningkatkan serangan atau kembali mencari jalur diplomatik untuk meredakan konflik.













