Dukungan serupa juga datang dari Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, yang sempat mengunjungi Budapest dan menyatakan kehadirannya untuk membantu kampanye Orban.
Seorang mantan pejabat Gedung Putih menyebut langkah Hungaria kemungkinan merupakan upaya meredakan ketegangan dengan Iran pasca-insiden. Namun, hal ini tetap dinilai bertolak belakang dengan sikap pro-Israel yang selama ini mereka gaungkan.
“Hungaria adalah salah satu negara paling mendukung Israel. Mereka secara konsisten sejalan dengan Amerika Serikat saat negara Eropa lain memilih abstain,” ujarnya.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Hungaria sedang memainkan strategi diplomasi dua arah, atau justru menghadapi tekanan geopolitik yang lebih kompleks di balik layar?












