Lebih lanjut, Zulkifli menilai berbagai capaian ini tidak terlepas dari gaya kepemimpinan Ahmad Luthfi yang mengedepankan pendekatan substansial, dengan mengandalkan kerja kolaboratif dibandingkan populis.
Dalam model kepemimpinan ini, Gubernur Luthfi berperan sebagai orkestrator yang mendorong kerja kolektif atau super tim dalam mencapai tujuan pembangunan, bukan sebagai one man show.
“Ada dua tipe kepemimpinan, subtansial dan populis. Kepemimpinan substansial itu bagaimana dia sebagai orkestrator, sehingga orang bergerak untuk membangun daerahnya. Ketika diterapkan, terbukti hasilnya,” pungkas Zulkifli.
Sementara, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Saleh menilai, capaian kinerja pemerintahan Luthfi–Yasin secara umum memuaskan jika merujuk pada indikator Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Secara indikator, mayoritas target terpenuhi. Tantangan berikutnya adalah memastikan pemerataan capaian pembangunan. Ini yang nanti akan kami dalami melalui rapat-rapat komisi bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD),” ujarnya.
Saleh juga menyoroti perlunya penguatan kreativitas birokrasi, khususnya dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Menurutnya, strategi peningkatan pendapatan tidak bisa hanya mengandalkan sektor pajak, melainkan harus dibarengi optimalisasi aset milik pemerintah daerah maupun BUMD.
Di sisi lain, Saleh turut menekankan pentingnya kualitas investasi. Dengan realisasi investasi yang mencapai Rp88 triliun, dia berharap dampaknya tidak semata terlihat pada angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Menurutnya, investasi yang inklusif akan memberikan efek ganda, yakni memperkuat aktivitas ekonomi sekaligus berkontribusi pada penurunan tingkat kemiskinan.
(jatengprov)












