Seketika.com, Bandung – Haji Dedy Nazarudin Latief, yang akrab disapa Haji Belut, membuktikan usia bukan alasan untuk meninggalkan dunia enduro. Di usia 68 tahun, pria kelahiran Bandung itu masih mengikuti event Hiu Selatan International Hard Enduro di Cilacap dan melibas trek ekstrem.
Lebih dari empat dekade, kecintaan Haji Dedy terhadap motor enduro tetap terjaga. Meski kini telah pensiun dari aktivitas balap secara formal, ia masih mengikuti perkembangan olahraga yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Haji Dedy Nazarudin Latief atau Haji Belut merupakan salah satu penghobi enduro yang tetap aktif mengikuti perkembangan olahraga tersebut hingga usia 68 tahun.
Lahir di Bandung 68 tahun lalu, Haji Dedy merupakan anak pertama dari sembilan bersaudara. Ia memiliki lima anak dan lima cucu.
Kecintaannya terhadap motor enduro telah berlangsung lebih dari 40 tahun, sejak masih remaja hingga sekarang.
Di lingkungan keluarga besarnya yang religius, ia juga memiliki panggilan akrab lain, yakni “SC” atau “Sepuh Coy”.
Nama panggilan “Belut” sendiri dikaitkan dengan komunitas ORARI dan kegemarannya pada balap enduro.
Karakter olahraga yang menuntut kemampuan melewati medan sulit membuat sosoknya dikenal dengan julukan tersebut.
Ia bahkan pernah turun bersama sejumlah nama yang dikenal di lingkungan balap motor, termasuk Tong Eng dan Popoh Hartopo.
Perjalanan tersebut juga membawanya mengikuti sejumlah kompetisi. Dengan dukungan penuh Haji Usman Sayogi, mantan Kepala Bapenda Kabupaten Bandung dan pemilik Hotel Soreang, Haji Dedy pernah meraih prestasi di kelas OMR Kawasaki Hobby dalam Enduro Race serta beberapa event enduro di Indonesia.
Dukungan tersebut mencakup akomodasi dan pembiayaan selama mengikuti sejumlah kegiatan balap.
Haji Dedy mulai mengenal dan menjalani hobi motor enduro sejak usia remaja. Hingga memasuki usia 68 tahun, kecintaan terhadap medan off-road tersebut belum benar-benar hilang.
Baginya, motor enduro menjadi bagian dari perjalanan hidup yang terus berlangsung lintas generasi.
Haji Dedy tidak hanya menjadikan enduro sebagai aktivitas rekreasi. Ia juga pernah mengikuti kompetisi, termasuk kelas OMR Kawasaki Hobby dalam Enduro Race.
Selain itu, sejumlah event enduro di Indonesia pernah diikutinya dan menjadi bagian dari pengalaman panjangnya di dunia balap.
Di luar aktivitas bermotor, Haji Dedy memiliki pengalaman formal di bidang pendidikan dan olahraga.
Ia pernah menjalankan tugas di bidang akademik dan kemahasiswaan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Ia juga pernah terlibat dalam pengelolaan Pusat Pembinaan dan Pelatihan Olahraga Mahasiswa Jawa Barat, serta menjalankan peran di KONI Jawa Barat dan KONI Kabupaten Bandung pada bidang pembinaan dan prestasi.
Setelah memasuki masa pensiun, aktivitas enduro tetap menjadi salah satu kegemarannya.
Salah satu momen yang menunjukkan konsistensinya terjadi ketika Haji Deddy mengikuti Hiu Selatan International Hard Enduro di Cilacap.
Di usia 68 tahun, ia tetap berani menghadapi trek yang dikenal ekstrem. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa semangat terhadap olahraga enduro masih kuat meski dirinya telah memasuki masa pensiun dari balap motor.
Kecintaannya terhadap enduro juga berjalan seiring dengan kehidupan rumah tangganya bersama Teh Eceu, seorang pensiunan pendidik yang menjadi pendamping hidupnya.
Bagi Haji Dedy, hasil perlombaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang pembalap.
Ia mengingatkan pembalap muda agar tidak mudah kecewa ketika mendapatkan hasil yang belum sesuai harapan.
Menurutnya, proses belajar justru menjadi bagian yang sangat berharga dalam perjalanan seseorang ketika menekuni balap enduro.
Pesan tersebut relevan dengan perjalanan panjang yang telah dilaluinya: pengalaman, kegagalan, tantangan trek, hingga kesempatan untuk terus berkembang merupakan bagian dari olahraga.
Meski telah pensiun dari aktivitas balap motor secara formal, Haji Dedy tetap mengikuti perkembangan dunia enduro.
Usianya kini 68 tahun, tetapi kecintaan terhadap motor dan medan ekstrem belum sepenuhnya berakhir. Perjalanan lebih dari 40 tahun membuat enduro bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari identitas dan pengalaman hidupnya.













