Ia juga menuduh Havana terlibat dalam campur tangan luar negeri, termasuk apa yang ia sebut sebagai upaya “menjajah Venezuela.”
“Masalah pangan di Kuba bukan karena kami menghentikan minyak ilegal Venezuela, tetapi karena pemerintahnya gagal memastikan makanan tersedia di rak-rak toko,” ujar Lewin, seraya menyebut bahwa Kuba memiliki sumber daya finansial yang cukup, namun tidak digunakan untuk kepentingan warga biasa.
Pernyataan Lewin disampaikan beberapa jam setelah Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menggelar konferensi pers terbatas, yang hanya dihadiri jurnalis undangan. Kantor berita Associated Press tidak diundang dalam acara tersebut.
Dalam konferensi itu, Díaz-Canel menuduh Amerika Serikat melancarkan “perang psikologis” terhadap Kuba.
Ia menyebut ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang memasok minyak ke Kuba sebagai bentuk “blokade energi.”
Díaz-Canel mengatakan kebijakan tersebut berdampak luas terhadap transportasi, rumah sakit, sekolah, pariwisata, hingga produksi pangan, serta memperparah pemadaman listrik di berbagai wilayah.
Pemerintah Kuba mencatat bahwa sanksi AS telah merugikan negaranya lebih dari US$7,5 miliar dalam periode Maret 2024 hingga Februari 2025.












