Dalam periode tersebut, China diduga memberi Iran akses ke sinyal militer terenkripsi BeiDou.
Sejak saat itu, sistem ini disebut mulai digunakan dalam panduan rudal balistik, navigasi drone militer dan jaringan komunikasi militer yang aman.
Transisi penuh diperkirakan baru selesai sekitar 2025, termasuk dalam sektor sipil seperti transportasi dan logistik.
Sebelum menggunakan navigasi satelit, banyak rudal Iran bergantung pada navigasi inersia.
Sistem ini bekerja dengan mengukur gerakan menggunakan sensor seperti giroskop dan akselerometer.
Namun metode tersebut memiliki kelemahan: kesalahan kecil akan terakumulasi seiring waktu, sehingga akurasi bisa menurun dalam jarak jauh.
Sinyal navigasi satelit seperti BeiDou digunakan untuk mengoreksi jalur rudal selama penerbangan, sehingga meningkatkan ketepatan target secara signifikan.
Menurut sejumlah analis, sistem BeiDou bahkan memiliki margin kesalahan kurang dari satu meter dalam kondisi tertentu.
Selain itu, sistem ini memiliki fitur tambahan seperti ketahanan terhadap gangguan sinyal (jamming), perlindungan dari pemalsuan sinyal (spoofing) dan komunikasi pesan singkat satelit hingga 2.000 km.
Fitur tersebut memungkinkan operator mengubah jalur rudal atau drone setelah diluncurkan.
Para analis menilai perkembangan navigasi satelit global telah mengubah lanskap peperangan modern.
Kemampuan serangan presisi kini semakin bergantung pada infrastruktur navigasi global, bukan hanya teknologi senjata.
Jika penggunaan BeiDou oleh Iran terbukti, hal ini dapat memicu perubahan besar dalam sistem navigasi global.
Beberapa negara mungkin mulai mempertimbangkan mengurangi ketergantungan pada GPS Amerika Serikat dengan menggunakan kombinasi berbagai sistem satelit.
Selain itu, konflik di Timur Tengah juga dapat menjadi laboratorium nyata bagi China untuk menguji kemampuan teknologi navigasi dan militernya.
Dengan semakin presisi dan tahan gangguan, sistem seperti BeiDou diperkirakan akan memainkan peran strategis dalam teknologi perang modern di masa depan.












