“Ini keputusan yang sulit, tetapi pada tahap ini merupakan langkah yang tepat mengingat situasi di Timur Tengah,” ujar Domenicali.
Senada dengan itu, Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem menegaskan bahwa keselamatan komunitas F1 menjadi prioritas utama.
“FIA akan selalu mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan komunitas kami. Setelah pertimbangan matang, kami mengambil keputusan ini dengan tanggung jawab tersebut,” katanya.
Menariknya, baik FIA maupun F1 tidak menggunakan istilah ‘dibatalkan’ atau ‘ditunda’, sehingga membuka kemungkinan balapan tersebut dijadwalkan ulang jika situasi membaik.
“Bahrain dan Arab Saudi sangat penting bagi ekosistem musim balap kami. Saya berharap dapat kembali ke sana secepat mungkin ketika keadaan memungkinkan,” tambah Ben Sulayem.
Keputusan ini berdampak besar pada kalender Formula 1 musim 2026.
Tanpa dua seri tersebut, akan muncul jeda lima minggu antara Grand Prix Jepang pada 29 Maret dan Grand Prix Miami pada 3 Mei.
Jika tidak ada penjadwalan ulang, musim ini hanya akan memiliki 22 balapan, jumlah terendah sejak 2023.
Padatnya kalender F1 juga membuat peluang mencari tanggal pengganti menjadi sangat terbatas.












