Pelatih Real Madrid, Xabi Alonso, datang ke final dengan rencana tak terduga.
Terinspirasi pendekatan pragmatis ala José Mourinho saat menghadapi Barcelona di era Guardiola, Alonso menurunkan lima pemain bertahan, memindahkan Aurélien Tchouaméni ke posisi bek tengah, menugaskan Gonzalo García untuk meredam Pedri, serta memainkan Vinícius Jr. sebagai striker.
Strategi ini tidak sepenuhnya meningkatkan kualitas permainan Madrid, tetapi cukup efektif untuk menjaga laga tetap kompetitif.
Los Blancos tampil lebih agresif dan intens tanpa bola, membuat Barcelona kesulitan membongkar pertahanan hingga laga berjalan ketat sampai menit-menit akhir.
Real Madrid sempat bangkit lewat gol Gonzalo García pada menit ke-50.
Penyerang jebolan akademi Madrid itu mencetak gol khas striker klasik penuh oportunisme dan determinasi untuk menyamakan skor 2-2.
Tak lama kemudian, Vinícius Jr. menghadirkan momen magis.












