InternasionalPeristiwa

Gencatan Senjata Iran di Ujung Tanduk: Selat Hormuz Ditutup, Serangan Israel Tewaskan Ratusan di Lebanon

6
×

Gencatan Senjata Iran di Ujung Tanduk: Selat Hormuz Ditutup, Serangan Israel Tewaskan Ratusan di Lebanon

Share this article
Gencatan Senjata Iran di Ujung Tanduk Selat Hormuz Ditutup, Serangan Israel Tewaskan Ratusan di Lebanon, foto:(ap)

Seketika.com, Internasional – Kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat kini berada di ambang kegagalan. Iran dilaporkan kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon. Langkah ini memicu reaksi keras dari Gedung Putih yang menuntut agar jalur vital perdagangan minyak dunia itu segera dibuka kembali.

Di tengah situasi ini, kedua pihak justru sama-sama mengklaim kemenangan. Namun di lapangan, konflik terus bereskalasi dengan serangan drone dan rudal yang menyasar Iran serta negara-negara Teluk Arab.

Israel meningkatkan intensitas serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Serangan tersebut menghantam kawasan komersial dan permukiman di Beirut.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 182 orang tewas dalam satu hari, menjadikannya hari paling mematikan sejak konflik berlangsung.

Iran mengecam keras aksi tersebut dan menyebutnya sebagai “pembantaian”, sembari menekan Amerika Serikat untuk memenuhi komitmen dalam kesepakatan gencatan senjata.

Kesepakatan damai yang dicapai ternyata menyisakan banyak ketidakjelasan. Iran menilai Amerika Serikat telah melanggar sejumlah syarat penting, termasuk serangan Israel terhadap Hizbullah, dugaan pelanggaran wilayah udara Iran dan penolakan terhadap pengayaan uranium Iran.

Sementara itu, Amerika Serikat dan Israel menyatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak mencakup Lebanon, berbeda dengan klaim Iran dan mediator internasional.

Penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian utama dunia. Jalur ini merupakan rute sekitar 20% perdagangan minyak dan gas global.

Iran bahkan disebut mulai menerapkan biaya bagi kapal yang melintas, hingga $1 per barel minyak. Kebijakan ini berpotensi mngganggu stabilitas pasar energi global, meningkatkan harga minyak dan memicu ketegangan dengan negara-negara Teluk