Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, memperingatkan bahwa bahkan “tentara terkuat di dunia pun bisa menerima tamparan yang membuatnya tak mampu bangkit kembali.”
Latihan militer dimulai Senin pagi di kawasan Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Teluk Oman. Pengumuman penutupan dilakukan Selasa, bertepatan dengan dimulainya pembicaraan di Jenewa.
Langkah ini muncul hanya beberapa hari setelah Washington mengumumkan pengiriman kapal induk terbesar dunia, USS Gerald R. Ford, ke Timur Tengah.
Kapal tersebut dijadwalkan bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang telah lebih dulu berada di kawasan.
Menurut pejabat Angkatan Laut AS, kapal-kapal tersebut saat ini berada di Atlantik tengah dan diperkirakan membutuhkan lebih dari sepekan untuk mencapai perairan dekat Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur distribusi energi global paling strategis. Penutupan atau gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan mengguncang ekonomi dunia.
Namun menariknya, harga minyak justru turun setelah perundingan berakhir. Minyak mentah AS turun 1,3% menjadi US$62,06 per barel, sementara Brent turun 2,3% menjadi US$67,03 per barel. Pasar tampaknya masih berharap tercapainya kesepakatan diplomatik.
Analis keamanan dari Israel menyebut langkah Iran ini sebagai pesan bahwa setiap serangan terhadap wilayahnya akan berdampak global.












