Namun, Amerika Latin memiliki satu elemen yang relatif menonjol: pasukan paramiliter dan kelompok bersenjata non-konvensional.
Kelompok-kelompok ini sering beroperasi di luar rantai komando militer formal, menggunakan perang asimetris dan memiliki pengaruh politik dan sosial di tingkat lokal.
Kuba, misalnya, memiliki pasukan paramiliter terbesar ketiga di dunia, dengan lebih dari 1,14 juta anggota, menurut Global Firepower.
Struktur ini mencakup Milisi Pasukan Teritorial dan komite pertahanan lingkungan yang berfungsi sebagai cadangan sipil negara.
Di Venezuela, kelompok sipil bersenjata pro-pemerintah yang dikenal sebagai “colectivos” kerap dituding berperan dalam pengendalian politik dan keamanan internal.
Meski bukan bagian resmi militer, kelompok ini dianggap beroperasi dengan toleransi atau dukungan negara, terutama di masa krisis.
Sementara itu di Kolombia, paramiliter sayap kanan muncul sejak 1980-an untuk melawan gerilyawan kiri.
Meski secara resmi dibubarkan pada 2000-an, banyak yang berevolusi menjadi kelompok kriminal bersenjata dan masih aktif di wilayah pedesaan.
Di Meksiko, kartel narkoba bersenjata berat berfungsi sebagai pasukan paramiliter de facto. Kelompok seperti Los Zetas, yang dibentuk oleh mantan tentara, memiliki persenjataan kelas militer dan kerap melampaui kapasitas polisi lokal, memaksa militer Meksiko terlibat langsung dalam penegakan hukum.
Dalam dua abad terakhir, Amerika Serikat berulang kali ikut campur di Amerika Latin.
- Akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20: Perang Pisang, demi melindungi kepentingan korporasi AS
- 1934: Kebijakan Bertetangga Baik oleh Presiden Franklin D. Roosevelt, menjanjikan nonintervensi
- Era Perang Dingin: operasi rahasia CIA untuk menggulingkan pemerintahan terpilih
- 1989: Invasi Panama dalam Operasi Just Cause, menggulingkan Presiden Manuel Noriega
Sejarah ini membuat banyak negara Amerika Latin memandang ancaman terbaru Washington dengan kecurigaan mendalam, meski kemampuan militer mereka terbatas.
(aljazeera)












