“Menurut pandangan kami, kelompok tersebut harus fokus pada bagaimana mengatasi kekhawatiran keamanan Amerika, sambil tetap menghormati batasan-batasan yang ditetapkan oleh Kerajaan Denmark,” kata Rasmussen.
Motzfeldt sendiri menegaskan bahwa Greenland terbuka untuk kerja sama dengan Amerika Serikat, tetapi menolak gagasan penguasaan wilayah.
“Kami ingin bekerja sama, tetapi itu tidak berarti kami ingin dimiliki oleh Amerika Serikat,” tegasnya.
Penolakan terhadap ambisi Washington juga datang dari masyarakat adat Greenland, atau kalaallit.
Sebuah akun media sosial resmi yang mewakili pemerintah Greenland di AS dan Kanada menyoroti minimnya dukungan publik terhadap ide bergabung dengan Amerika Serikat.
“Kenapa kalian tidak bertanya pada kami, kalaallit? Terakhir kali jajak pendapat dilakukan, hanya 6% warga Greenland/kalaallit yang mendukung untuk menjadi bagian dari AS,” tulis akun tersebut di platform X.
Meski mendapat penolakan dari Denmark, Greenland, dan sekutu Eropa, Presiden Donald Trump kembali menegaskan sikapnya.












