Dalam pemeriksaan silang, Mosseri membantah tudingan bahwa Meta sengaja menargetkan remaja demi keuntungan jangka panjang.
Ia menyatakan Instagram menghasilkan “lebih sedikit uang dari remaja dibandingkan demografi lain,” dengan alasan remaja cenderung jarang mengklik iklan dan belum memiliki daya beli besar.
Namun, Lanier mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa pengguna yang bergabung sejak usia muda cenderung bertahan lebih lama di platform, yang berpotensi menghasilkan keuntungan jangka panjang signifikan.
Mosseri menegaskan, “Sangat sulit membayangkan situasi di mana memprioritaskan keselamatan tidak menguntungkan pendapatan.”
Meski Instagram telah menambahkan berbagai fitur keamanan dalam beberapa tahun terakhir, kritik tetap bermunculan.
Sebuah laporan tahun lalu menemukan bahwa akun remaja yang dibuat peneliti justru direkomendasikan konten seksual eksplisit, termasuk ilustrasi tindakan seksual merendahkan dan potongan gambar ketelanjangan.
Laporan tersebut juga menyebut adanya rekomendasi konten terkait menyakiti diri sendiri, citra tubuh ekstrem, hingga materi yang berpotensi memicu pikiran bunuh diri.
Meta membantah keras temuan itu dan menyebut laporan tersebut “menyesatkan, spekulatif, dan berbahaya.”
Selain kasus di Los Angeles, Meta juga menghadapi persidangan terpisah di New Mexico yang dimulai minggu ini.
Jika pengadilan memutuskan bahwa perusahaan media sosial dapat dimintai pertanggungjawaban atas dampak kesehatan mental remaja, industri teknologi global berpotensi menghadapi gelombang regulasi dan gugatan besar-besaran.
Sidang ini bukan sekadar perkara hukum, tetapi bisa menjadi titik balik dalam cara dunia memandang tanggung jawab platform digital terhadap generasi muda.
(apnews)












