“Kami lelah dengan pengungsian dan ingin kembali ke kehidupan normal. Membaca Al-Qur’an bersama teman-teman membuat saya lebih kuat,” katanya.
Kisah serupa juga datang dari Wasim Abu Sahloul, seorang penghafal Al-Qur’an yang sempat dipenjara di Israel dan dibebaskan pada Februari 2025 dalam pertukaran tahanan.
Menurutnya, praktik keagamaan di dalam penjara sangat dibatasi.
“Salinan Al-Qur’an dirampas dari kami. Kami bahkan tidak bisa salat dengan bebas,” katanya.
Meski demikian, para tahanan tetap saling mengajarkan hafalan Al-Qur’an di dalam penjara.
Beberapa bulan setelah ia bebas, tragedi kembali menghantam keluarganya. Serangan udara menewaskan sembilan anggota keluarganya, termasuk ibunya dan anak laki-lakinya yang berusia sembilan tahun.
“Saya persembahkan bacaan hari ini untuk mereka,” ujarnya.
Upaya menjaga tradisi Al-Qur’an di Gaza juga dilakukan oleh berbagai lembaga pendidikan agama, salah satunya Dar al-Quran dan Institut Sunnah.
Direktur lembaga tersebut, Ahmed al-Saafin, mengatakan meski banyak fasilitas hancur, pengajaran Al-Qur’an tetap berlangsung di kamp-kamp pengungsian.
“Pada awal gencatan senjata Oktober 2025 kami berhasil membuka 67 lokasi pengajaran Al-Qur’an. Dalam lima bulan jumlah peserta meningkat menjadi lebih dari 300 orang,” katanya.
Menurutnya, kegiatan seperti “Safwat Al-Huffaz” mengirim pesan kuat bahwa kehidupan spiritual masyarakat Gaza tetap bertahan meski di tengah perang.
“Melalui Al-Qur’an, jiwa kami tetap hidup,” ujar al-Saafin.












