Dian menyampaikan, Jakpro telah menjajaki kerja sama dengan PT Pasaraya Tosersajaya pada Desember 2025 sebagai salah satu langkah dalam pengembangan kawasan berbasis TOD tersebut.
Penjajakan ini masih berada pada tahap awal, yang meliputi inventarisasi potensi, penyusunan kajian, serta perumusan skema kerja sama yang optimal.
“Sejalan dengan kebijakan pembangunan di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, pengembangan Stasiun Manggarai LRT Jakarta merupakan bagian dari upaya mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang terkoneksi, berkelanjutan, dan inklusif, serta mendukung pemerataan manfaat pembangunan bagi masyarakat,” jelasnya.
Dian menambahkan, melalui pengembangan Stasiun Manggarai LRT Jakarta, Jakpro menegaskan komitmennya untuk menghadirkan infrastruktur transportasi terintegrasi yang tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi dan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat Manggarai dan sekitarnya.
Diharapkan, integrasi antarmoda tersebut mampu mendorong pergerakan aktivitas masyarakat dan ekonomi lokal secara lebih optimal.
“Akses yang semakin baik diyakini dapat membuka peluang usaha, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat nilai ekonomi kawasan Manggarai tanpa mengubah karakter sosial dan aktivitas warganya,” tandasnya.
Sebagai informasi, selain mendukung mobilitas perkotaan, LRT Jakarta yang beroperasi menggunakan tenaga listrik juga berkontribusi terhadap agenda dekarbonisasi perkotaan.
Secara kumulatif, pengoperasian LRT Jakarta Fase 1A dan 1B diproyeksikan mampu mengurangi emisi hingga 2.927.250 ton CO2e, melalui penurunan emisi karbon per penumpang per kilometer dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi.
(beritajakarta)












