PolitikReligi

Mitigasi Risiko Haji 2026: DPR Minta Petugas Siaga Hadapi Puncak Armuzna

16
×

Mitigasi Risiko Haji 2026: DPR Minta Petugas Siaga Hadapi Puncak Armuzna

Share this article
Mitigasi Risiko Haji 2026 DPR Minta Petugas Siaga Hadapi Puncak Armuzna, foto:(dpr)

Seketika.com, Jakarta – Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI 2026, M. Nasir Djamil, mengingatkan pemerintah dan seluruh petugas haji Indonesia agar memperkuat mitigasi risiko menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Menurutnya, fase Armuzna menjadi titik paling krusial dalam rangkaian ibadah haji karena melibatkan perpindahan jutaan jemaah dalam waktu hampir bersamaan dan berpotensi memicu persoalan serius di lapangan.

Hal itu disampaikan Nasir Djamil ke awak media seusai Rapat Koordinasi Timwas Haji DPR RI dengan stakeholder terkait di AlQim’ma Hall, Makkah, Minggu (24/5/2026).

Nasir menegaskan pengalaman pelaksanaan haji tahun lalu harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh, terutama terkait banyaknya jemaah lanjut usia yang terlantar usai mabit di Muzdalifah. Saat itu, sejumlah jemaah kesulitan menemukan tenda pemondokan di Mina hingga menunggu berjam-jam dalam kondisi kelelahan fisik dan tekanan psikologis.

“Tahun lalu banyak jemaah lansia yang terdampar setelah mabit di Muzdalifah. Sampai waktu zuhur mereka belum menemukan pemondokan di Mina, sementara mereka juga harus mengejar waktu lempar jumrah,” ujar Nasir.

Menurut Anggota Komisi III DPR RI itu, lemahnya pengendalian lapangan dan koordinasi petugas menjadi salah satu penyebab munculnya kepanikan jemaah. Karena itu, ia meminta petugas kloter, ketua rombongan, dan ketua regu menjalankan fungsi pendampingan secara maksimal selama proses perpindahan jamaah berlangsung.

“Jika petugas kloter, ketua rombongan dan ketua regu efektif melakukan tugasnya maka kepanikan tersebut akan lebih mudah diatasi,” kata Politisi Fraksi PKS ini.

Nasir menilai peran petugas haji tidak hanya terbatas pada administrasi perjalanan, tetapi juga memastikan jemaah tetap tenang, terarah, dan memperoleh informasi yang jelas di tengah situasi padat dan melelahkan.

Terlebih, mayoritas jemaah ndonesia didominasi kelompok lanjut usia yang rentan mengalami disorientasi saat perpindahan massal menuju Mina.