PolitikTeknologi

Riset AI Nasional Perlu Konsolidasi, BRIN Jadi Kunci Kemandirian Teknologi

45
×

Riset AI Nasional Perlu Konsolidasi, BRIN Jadi Kunci Kemandirian Teknologi

Share this article
Riset AI Nasional Perlu Konsolidasi, BRIN Jadi Kunci Kemandirian Teknologi, foto:(dpr)

Seketika.com, Jakarta – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Kurniasih Mufidayati mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat konsolidasi riset dan pengembangan kecerdasan buatan (AI) nasional. Menurutnya, Indonesia memiliki talenta, riset, dan berbagai produk AI lokal yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan teknologi nasional.

Kurniasih menilai perkembangan agentic artificial intelligence membuka peluang bagi Indonesia untuk mempercepat pembangunan ekosistem AI yang mandiri dan kompetitif. Untuk itu, BRIN dinilai dapat mengambil peran strategis dalam menghubungkan perguruan tinggi, pusat riset, talenta, startup, industri, dan pengembang AI lokal.

“Indonesia sudah memiliki talenta dan berbagai inisiatif AI buatan lokal. Ini merupakan modal yang sangat berharga. BRIN dapat mengonsolidasikan kekuatan tersebut sehingga berkembang menjadi salah satu kekuatan AI besar yang dibangun dari kemampuan bangsa sendiri,” kata Kurniasih dalam keterangannya kepada Parlementaria, Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, konsolidasi diperlukan agar berbagai inovasi AI yang berkembang di sejumlah lembaga tidak berjalan sendiri-sendiri. Ekosistem riset yang terhubung akan memperkuat pengembangan model AI, infrastruktur komputasi, data, keamanan, serta penerapan AI sesuai dengan kebutuhan nasional.

“Yang kita perlukan adalah orkestrasi. BRIN bisa menjadi penghubung antara riset di perguruan tinggi, inovasi anak bangsa, pengembangan teknologi oleh industri, dan kebutuhan masyarakat. Dengan begitu, berbagai potensi yang sudah ada dapat menjadi kekuatan bersama,” ujarnya.

Kurniasih juga mengapresiasi pemetaan BRIN terhadap sejumlah teknologi strategis nasional, termasuk semikonduktor, kecerdasan buatan, biogenomik, dan komputasi kuantum. Khusus AI, ia mendorong agar riset diarahkan pada sektor yang memiliki dampak luas, seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, lingkungan, kebencanaan, transportasi, dan industri kreatif.

Ia menilai karakteristik Indonesia yang khas dapat menjadi modal dalam menghasilkan AI yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Pengembangan teknologi tersebut juga perlu memperkuat penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah agar AI semakin sesuai dengan konteks nasional.

“AI yang kita kembangkan harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kita memiliki persoalan, data, bahasa, budaya, dan karakteristik sendiri. Ini justru bisa menjadi keunggulan dalam membangun AI yang relevan dengan Indonesia,” ujar Legislator dari Fraksi PKS itu.

Selain pengembangan teknologi, Kurniasih menekankan pentingnya jalur hilirisasi yang jelas agar hasil riset AI dapat berkembang menjadi prototipe, kekayaan intelektual, produk teknologi, maupun layanan yang memberi manfaat bagi masyarakat dan dunia usaha. Investasi terhadap talenta dan infrastruktur komputasi juga perlu diperkuat agar Indonesia mampu mempertahankan dan mengembangkan sumber daya manusia terbaik di bidang AI.

“Kalau talenta, riset, data, infrastruktur, dan industri bisa terkoneksi dengan baik, kita memiliki fondasi yang kuat untuk membangun AI nasional. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga investasi untuk daya saing dan masa depan sumber daya manusia Indonesia,” pungkasnya.