Klaim tersebut dibantah Kyiv dan juga ditolak oleh Presiden AS Donald Trump.
Sejumlah analis menilai, penggunaan Oreshnik lebih bertujuan untuk mengintimidasi sekutu Barat Ukraina.
“Vladimir Putin menggunakan rudal ini untuk berkomunikasi dengan Barat. Secara militer, efek yang sama bisa dicapai tanpa senjata ini,” ujar Cyrille Bret, analis Rusia dari Institut Montaigne, kepada AFP.
Oreshnik yang berarti pohon hazel dalam bahasa Rusia adalah rudal balistik jarak menengah berkemampuan hipersonik, melaju lebih dari Mach 5 dan sulit dicegat.
Rudal ini dapat membawa hulu ledak nuklir maupun konvensional dan diyakini memiliki jangkauan 1.000–1.600 kilometer.
Rusia sebelumnya hanya sekali menggunakan Oreshnik, pada November 2024, saat menyerang Dnipro. Kala itu, menurut sumber Ukraina yang dikutip Reuters, rudal tersebut membawa hulu ledak tiruan.
Jika benar Oreshnik kali ini membawa bahan peledak aktif, maka ini menjadi penggunaan penuh pertama senjata tersebut dalam perang Ukraina.












