Seketika.com, Internasional – Sekitar 90 kapal, termasuk tanker minyak, dilaporkan tetap melintasi Selat Hormuz sejak awal konflik dengan Iran pada awal Maret 2026. Fakta ini memunculkan pertanyaan besar: apakah jalur energi paling vital dunia itu benar-benar ditutup?
Data dari Lloyd’s List Intelligence menunjukkan, sebanyak 89 kapal tercatat melintas antara 1 hingga 15 Maret.
Angka ini memang jauh menurun dibandingkan kondisi normal sebelum perang yang mencapai 100–135 kapal per hari. Namun, lalu lintas tersebut menegaskan bahwa aktivitas ekspor minyak belum sepenuhnya berhenti.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang memasok sekitar 20% kebutuhan minyak mentah global. Sejak konflik meningkat, setidaknya 20 kapal dilaporkan diserang di kawasan tersebut, menyebabkan sebagian besar pengiriman terhenti.
Menurut laporan tersebut, banyak kapal yang melintas melakukan apa yang disebut sebagai “transit gelap”, yakni upaya menghindari pelacakan dan sanksi Barat. Kapal-kapal ini diduga memiliki keterkaitan dengan Iran.
Selain itu, sejumlah kapal dari India dan Pakistan juga berhasil melintasi selat, diduga berkat jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, mengonfirmasi bahwa kapal LPG India dapat melintas setelah adanya pembicaraan dengan Iran.
Analis menyebut Iran kemungkinan telah menciptakan “koridor aman” terbatas, yang memungkinkan kapal tertentu melintas dekat wilayah pantainya dengan tingkat perlindungan tertentu.












