Seketika.com, Internasional – Di tengah reruntuhan bangunan dan dengungan drone militer di langit, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema dari halaman Masjid Al-Shafii di Khan Younis, Gaza selatan, saat fajar menyingsing pada bulan Ramadan.
Sebanyak 256 qari atau penghafal Al-Qur’an Palestina berkumpul dalam sebuah kegiatan bertajuk “Safwat Al-Huffaz” (Para Elit Penghafal Al-Qur’an). Mereka bertekad menyelesaikan pembacaan seluruh Al-Qur’an dalam satu hari, dari setelah salat Subuh hingga menjelang matahari terbenam.
Tradisi ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat Gaza. Namun, setelah hampir dua tahun perang yang menghancurkan wilayah tersebut, kegiatan ini kini memiliki makna yang jauh lebih mendalam bagi para pesertanya.
Para peserta terdiri dari ratusan penghafal Al-Qur’an dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka duduk berbaris di halaman masjid yang sebagian bangunannya rusak akibat serangan.
Beberapa peserta duduk di kursi sederhana, sementara lainnya bersila di lantai. Di samping mereka, para pendamping mendengarkan dengan saksama setiap ayat yang dilantunkan untuk memastikan bacaan tetap sempurna.
Salah satu peserta adalah Mohammad al-Qiranawi (51), seorang penghafal Al-Qur’an yang kehilangan penglihatannya sejak usia 10 tahun.
“Al-Qur’an selalu menjadi sahabat terbaik saya,” kata al-Qiranawi. Meski buta, ia terus menghafal dan mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak serta murid-muridnya selama bertahun-tahun.
Para qari membaca ayat demi ayat Al-Qur’an secara bergantian hingga seluruh kitab suci selesai dibacakan sebelum matahari terbenam. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk ibadah kolektif yang paling dihormati selama Ramadan di Gaza.












