Terlebih saat Jakarta bersiap memasuki babak baru, tampilan estetik warisan leluhur Betawi di ruang publik menjadi hak budaya yang patut diperjuangkan.
Meski demikian, Dorri mengakui penerapan ornamen tradisional pada kota besar tidaklah sederhana.
Dorri mengakui, dibutuhkan pertimbangan proporsional agar ragam hias Betawi dapat menyatu dengan bangunan modern yang berukuran jauh lebih besar.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah menjaga proporsionalitas agar ornamen tradisional dapat menyatu dengan bangunan modern berukuran besar tanpa kehilangan makna budaya.
Ia menjelaskan terdapat dua pendekatan yang dapat dilakukan. Pertama, pendekatan literal dengan menerapkan bentuk asli ornamen arsitektur Betawi melalui penyesuaian skala terhadap dimensi bangunan modern.
Kedua pendekatan simbolik dengan menghadirkan interpretasi artistik dari ragam hias Betawi tanpa menghilangkan nilai filosofisnya.
“Kunci keberhasilan ada pada kemampuan arsitek memadukan unsur tradisional dan modern secara harmonis, sehingga keduanya tidak saling mendominasi dan tetap nyaman dipandang,” terangnya.












