Penunjukan Mojtaba Khamenei memicu perdebatan di dalam negeri. Sejumlah tokoh politik Iran mengkritik proses tersebut karena dianggap menyerupai sistem dinasti.
Para kritikus menilai penyerahan kekuasaan kepada putra pemimpin tertinggi berpotensi menciptakan sistem mirip monarki, sesuatu yang justru digulingkan dalam Revolusi Islam 1979 yang menjatuhkan Shah Iran.
Meski demikian, sebagian ulama berpengaruh di Majelis Pakar diyakini mendukung Mojtaba karena pandangannya yang lebih garis keras dan komitmennya melanjutkan perang melawan Israel.
Analis menilai kepemimpinan Mojtaba Khamenei bisa membawa Iran ke arah yang lebih konfrontatif. Ia disebut memiliki pandangan yang bahkan lebih keras dibanding ayahnya.
Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Iran bisa mempercepat upaya mengembangkan senjata nuklir.
Selama konflik 12 hari pada Juni lalu, Amerika Serikat membombardir sejumlah fasilitas nuklir Iran. Meski banyak situs rusak parah, laporan menyebut Iran masih memiliki cadangan uranium yang diperkaya tinggi yang hanya selangkah lagi menuju tingkat senjata nuklir.
Israel telah menyebut Mojtaba sebagai target potensial dalam konflik yang sedang berlangsung.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menentang penunjukan tersebut.












