Momentum kebangkitan kopi ini juga ditandai dengan terbentuknya Koperasi Classic Bean yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas produksi.
Kesuksesan Kopi Gunung Puntang tidak terjadi secara instan. Ada beberapa faktor utama yang mendorongnya menjadi kopi kelas dunia:
- Ketinggian dan iklim ideal yang menghasilkan biji kopi berkualitas premium
- Penggunaan bibit unggul, termasuk turunan tanaman kopi sejak zaman Belanda
- Penerapan teknik budidaya berkelanjutan
- Pendampingan intensif kepada petani terkait proses tanam, panen, hingga pascapanen
Selain itu, perubahan pola pikir petani dari sekadar kuantitas ke kualitas juga menjadi kunci.
Sistem pengelolaan kopi di Gunung Puntang mengandalkan pola kemitraan. Petani menanam kopi di kawasan hutan dengan masa tunggu panen sekitar 2–3 tahun.
Setelah panen, hasilnya dibagi melalui skema sharing profit antara petani, LMDH, Perhutani, dan pemerintah desa.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga menjaga kelestarian hutan.












